Jam
dinding berdetak pelan di kamar yang hening. Detaknya terasa lebih nyaring dari
biasanya, seperti sedang mengingatkan sesuatu yang kulupa. Di luar jendela,
senja merayap perlahan, mencoret langit dengan warna jingga keemasan. Cantik,
tapi entah kenapa hari ini aku malas menikmatinya.
Tugas-tugas
menumpuk di meja. Buku-buku pelajaran terbuka sembarangan. Laptop menyala
dengan tab-tab yang kuabaikan. Playlist favorit pun sudah tidak terdengar
menyenangkan. Segalanya terasa... kosong.
“Kamu
nggak mau ikut daftar kelas seni?” suara Mama terdengar dari balik pintu.
Lembut. Seperti biasa. Penuh kehati-hatian, seolah takut aku retak hanya karena
satu kalimat.
Aku
menatap pintu. “Nggak, Ma. Lagi banyak tugas.”
Ada
jeda beberapa detik sebelum langkah kakinya menjauh perlahan. Pintu kamarnya
tertutup pelan. Tidak ada suara lagi.
Mama
selalu begitu. Bertanya, menawarkan, tapi tidak memaksa. Aku tahu mereka, Mama
dan Papa sangat mendukung apa pun yang ingin kulakukan. Tapi justru itu yang
kadang membuatku merasa bersalah. Karena di tengah semua kebebasan itu... aku
tetap merasa kehilangan arah.
Dulu
aku senang menggambar. Lalu berhenti. Pernah ingin jadi fotografer, tapi tak
pernah benar-benar memulai. Aku bilang ingin ini dan itu, mereka membelikan.
Tapi aku cepat bosan. Dan kini, aku bahkan tidak tahu apa yang aku sukai.
Di
sekolah, teman-temanku bercerita tentang les vokal, komunitas dance, jadi
panitia event sekolah, atau liburan keluarga yang seru. Aku hanya tersenyum,
mengangguk, lalu berpura-pura membuka bekal sambil menatap layar ponsel kosong.
“Lu
kenapa sih akhir-akhir ini kayak... ngilang?” tanya Dinda suatu siang di
kantin.
Aku
mengangkat bahu. “Nggak tahu. Cape aja.”
“Cape
karena sekolah atau cape mikirin hidup?”
Aku
tertawa pelan. “Mungkin dua-duanya.”
Dinda
nggak nanya lagi. Dia duduk diam sambil terus mengunyah kentang goreng. Tapi
justru itu yang aku butuhkan—kehadiran, bukan ceramah.
Malamnya,
aku duduk lagi di depan jendela kamar. Gelap mulai turun, lampu-lampu tetangga
menyala satu per satu. Dari kejauhan terdengar suara anak kecil tertawa. Entah
kenapa, suara itu membuat dadaku sesak.
Aku
ingin seperti mereka—tanpa beban, marah tanpa rasa bersalah, kecewa tanpa harus
menjelaskan panjang lebar.
Tapi
aku sudah remaja. Sudah harus bisa paham. Harus bisa dewasa. Harus bisa
bersyukur.
Tapi, boleh gak aku merasa ingin dimengerti, aahh … bukan itu juga. Aku
ingin bisa memperlihatkan siapa aku, apa kemampuanku. Aku ingin keadaan menjadi
seperti apa yang aku bayangkan.
Apa mungkin? Karena pernah ada yang bilang, kalau dunia tidak akan
berputar seperti apa yang kita inginkan. Dia berputar seperti apa yang
seharusnya.
Kita hanya tinggal mengikuti alurnya, mengikuti jalannya. Bukankah
banyak jalan, entah mengapa sulit untukku memutuskan mengambil jalan mana yang
tepat. Semua sepertinya sama.
Tapi
bagaimana caranya, jika yang aku rasakan hanya kekosongan?
Andai
saja keheningan ini bisa diterjemahkan tanpa perlu aku melukai udara dengan
suara.
Pagi
berikutnya, Papa mengantarku ke sekolah. Di jalan, kami tidak banyak bicara.
Hanya suara radio yang mengisi mobil, menyetel lagu-lagu lama yang tak kukenal.
“Kamu
nggak ada kegiatan hari ini di sekolah?” tanya Papa tiba-tiba.
“Enggak.
Paling nonton film di kelas.”
“Kamu
masih suka fotografi nggak?”
Aku
menoleh sebentar, lalu kembali melihat ke jalan. “Nggak tahu, Pa. Lagi nggak
pengin motret.”
Papa
mengangguk pelan. “Kalau suatu hari pengin, kamera masih ada, ya.”
Aku
tidak menjawab. Tapi ada sesuatu dalam suaranya—bukan kecewa, bukan marah—lebih
seperti... pengertian yang tidak diucapkan.
Sepulang
sekolah, aku menemukan sepiring kecil biskuit dan segelas susu hangat di meja
belajar. Di sampingnya, sticky note kuning yang tulisannya sedikit miring.
"Mama
nggak selalu ngerti, tapi Mama selalu di sini."
Aku
menatap catatan itu lama. Tiba-tiba tenggorokanku terasa berat. Sederhana, tapi
menyentuh. Ada yang hangat mengalir pelan dari dadaku, seperti air tenang yang
akhirnya tahu ke mana harus pergi.
Mungkin
mereka memang tidak selalu tahu apa yang kurasakan. Tapi mereka tidak pernah
pergi. Tidak menyerah, meski aku terus menutup diri.
Mungkin
selama ini aku terlalu sibuk mencari kebahagiaan dalam bentuk besar—tawa lepas,
panggung, pengakuan. Sampai lupa bahwa kebahagiaan bisa jadi secangkir susu hangat
di malam yang sunyi.
Hari
Sabtu, aku iseng membuka galeri lama di ponsel. Kutemukan foto-foto waktu aku
masih SMP. Salah satunya—aku tersenyum sambil menggenggam kamera, dan Papa
berdiri di belakangku, menatapku bangga.
Foto
itu membuatku berhenti. Lama.
Mungkin…
aku bisa mencoba lagi. Bukan untuk jadi hebat. Bukan demi siapa-siapa. Tapi
karena aku rindu merasa hidup.
Katanya
masa muda itu indah.
Tapi
keindahannya bukan selalu soal tawa, panggung, atau kebebasan yang besar.
Kadang,
ia hadir dalam bentuk yang tenang dan kecil—seperti biskuit di meja, pelukan
diam, atau catatan tangan yang tulus.
Dan
untuk pertama kalinya, aku merasa... mungkin aku sedang belajar menikmatinya.