Selasa, 21 Mei 2024

Resensi Film How to Make Millions Before Grandma Dies

Film pertama dari Thailand yang saya tonton. Berawal dari kaka Hasya yang tiba-tiba pengen nonton, dan langsung nyari film apa yang lagi tayang. Akhirnya dia bilang film ini bagus, Bu.

Pertama gak nyangka kalau ini bukan film dari "barat" tapi dari Thailand. Menurut saya, film ini menarik, meski sederhana. Atau mungkin karena kesederhanaannya ini yang membuatnya jadi menarik.

Secara keseharian, Thailand dan Indonesia tidak jauh berbeda. Sehingga ada ikatan saat melihat filmnya, seperti kebiasaan-kebiasaan, cara antri di rumah sakit, waktu berkunjung keluarga. Beberapa scene seakan kita merasakannya juga di Indonesia. 

Baiklah, mari kita ulas sedikit film ini.




Bercerita tentang kehidupan keluarga

Memang ini adalah film keluarga, mungkin beberapa penonton akan mengatakan, "ih, kok ini saya banget."

Hubungan adik-kakak, menantu-mertua, paman-keponakan, nenek-cucu, dan teman sekaligus sepupu.

Sang Cucu yang dipanggil M (Putthipong Assaratanakul), memutuskan untuk merawat nenek yang dipanggil Amah (Usha Seamkhum) karena terkena kanker stadium 4. 

Niat awal karena ingin dapet warisan dari Amah. Terinspirasi dari Mui (Tontawan Tantivejakul) yang mendapatkan warisan besar setelah merawat kakeknya.


Bahkan dalam film ini diungkapkan bagaimana jika ada kecewa maka akan ditinggalkan, jika kita melakukan kesalahan kemungkinan dibenci jadi lebih besar. Namun, seiring waktu dan instropeksi maka rasa sayang itu akan muncul dan mengubah segalanya.

Terkadang hubungan keluarga dapat terputus karena uang dan warisan, ini juga yang diangkat dalam film. Bagaimana Amah mencari saudara laki-lakinya untuk meminta bantuan ternyata harus menelan kekecewaan.

Ada dialog yang menyentil, yang diperlukan orang tua dari anaknya adalah waktu. Diperlihatkan bagaimana Amah setiap hari minggu menanti anak-anaknya untuk datang sekedar untuk makan dan bermain kartu. Apakah mereka selalu datang? Silakan tonton sendiri.

Awal cerita kita disuguhi bagaimana perlakuan setiap anak ketika Amah yang merupakan Ibu mereka terjatuh dan harus dirawat di rumah sakit. Silakan nilai diri kita sendiri, yang manakah kita. :)



Ada Scene Komedi

Meski genre drama, tapi ada adegan komedinya. Ringan tapi kena, hampir satu studio tertawa dalam beberapa adegan.

Gak usah dispill, biar penasaran, ya. 

Jujur, saya juga tertawa. Memang tidak terlalu banyak tapi cukup sebagai bumbu. Memperlihatkan bahwa hidup nyata juga seperti demikian, ada serius, sedih, bahkan komedi.



Akting Terlihat Wajar

Menonton film ini tidak berasa melihat akting yang berlebihan. Semua terlihat wajar, mengalir. Saya merasa seperti melihat kehidupan sehari-hari bukan film. 

Tidak ada reaksi wajah yang heboh atau tangisan yang dramatis, apalagi yang ngomong sendiri, gak ada. Natural banget, suukaaa....

Penggambaran kita yang menutup rasa sedih dengan menangis tapi orang lain tidak perlu tahu. Iya, mereka menangis dalam diam dengan cara mereka sendiri sesuai karakter. Membuat kita penonton jadi lebih sedih tanpa harus dipaksa.


Terakhir, saya suka dengan visual dari keadaan yang terlihat sebenarnya. Rumah sederhana yang dimiliki Amah dan rumah mewah milik anak pertamanya semua terlihat wajar. Lingkungan dan beberapa scene dramatis ketika M mengingat kembali percakapan dia dan Amah.

ah, bahkan kereta api yang lewat juga menunjukkan flash back dan keadaan sekarang. Bagus.

Silakan menonton, siapkan tisu dan hati.

Semoga kalian juga menyukainya seperti saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar