Rabu, 25 Juni 2025

Sebelum Kita Saling Jauh

 Oleh : Hastie

 

Aku yang paling jarang menangis di antara kami berlima. Yang paling bisa tertawa paling keras, paling cepat menimpali lelucon, paling cekatan menyusun rencana jalan-jalan ke mana pun. Tapi juga yang paling takut kalau semuanya... pelan-pelan berubah.

Aku jarang bilang. Bahkan mungkin nggak pernah. Tapi setiap kali salah satu dari mereka mulai menyebut kata “pergi,” “kuliah di luar kota,” “beasiswa ke luar negeri,” atau “tinggal jauh dari rumah”—rasanya seperti ada sesuatu yang perlahan lepas dari genggaman. Seperti pasir yang kamu pegang terlalu erat—malah hilang lebih cepat.

Kami berlima, sudah seperti lima titik di ujung bintang. Nggak pernah benar-benar sama, tapi selalu terhubung dalam cahaya yang kami bentuk sendiri.

Fina, yang penuh warna dan ide. Dia selalu bilang Jogja memanggilnya, katanya kota itu paham bahasa hati yang susah dijelaskan.
Raya, si pemimpi besar. Setiap sore dia bercerita tentang Jepang, seolah Tokyo sudah ada di ujung tangannya.
Ayu makin jarang nongkrong, sibuk ngejar nilai, les privat ini itu. Demi masuk jurusan kedokteran yang katanya sudah jadi cita-citanya sejak umur 12.
Nabila, anak paling tenang, yang diam-diam udah mendaftar jadi relawan pengajar di pedalaman. Katanya ingin hidup yang berarti, bukan cuma nyaman.

Dan aku?
Katanya aku kuat.
Katanya aku paling ceria.
Katanya aku selalu bisa mengerti, paling cepat menyesuaikan diri.

Padahal mereka nggak tahu...
Setiap kali dengar kata “nanti,” aku seperti orang yang ditinggal di tengah jalan.
Yang lain terus melangkah, dan aku cuma bisa diam sambil tersenyum, seolah tak ada yang hilang, padahal semuanya pelan-pelan menjauh.

Aku takut.
Takut jadi satu-satunya yang tertinggal di tempat yang sama, dengan memori yang cuma bisa diputar di kepala.
Takut jadi saksi dari sesuatu yang dulu pernah indah… tapi sudah lewat masanya.

Tapi aku tetap tertawa paling keras.
Tetap bilang, “bangga banget sama kalian.”
Tetap jadi yang paling sigap merangkul kalau ada yang sedih.

Karena katanya, yang kuat itu yang paling bisa merelakan.

Padahal aku cuma belum siap kehilangan.
Belum siap berpisah.
Belum siap jadi kenangan di antara cerita-cerita baru mereka.

Minggu lalu kami pergi ke danau belakang sekolah—tempat biasa kami ngumpul sejak kelas sepuluh. Tempat yang dulu cuma jadi pelarian kalau guru olahraga nggak masuk, sekarang terasa seperti museum kenangan. Sunyi, tapi penuh gema.

Obrolan kami masih sama. Tawa masih terurai, cemilan dan lagu-lagu masih menemani kami yang duduk diatas tikar bersejarah.  Hanya suasana yang berbeda, ada sedikit rasa asing menyelinap, semua percakapan sore itu terasa seperti potongan-potongan kalimat selamat tinggal yang dibungkus dalam tawa. Ada jeda-jeda aneh, ada lirikan mata yang terlalu cepat dialihkan.

“Aku udah keterima di program relawan itu,” kata Nabila pelan, matanya menatap danau yang mulai berkilau. “Tiga bulan. Di Flores.”

Kami semua bersorak, memeluknya bergantian. Aku juga ikut. Tapi pelukanku cepat-cepat kulepas, sebelum tanganku mulai gemetar.

“Gue daftar beasiswa Jepang. Mungkin nggak keterima, tapi nyoba aja dulu,” ucap Raya.

Fina langsung nyeletuk, “Gue doain lo dapet! Nanti bawa pulang kimono!”

Ayu dan aku tertawa, tentu aku tertawa paling keras di antara mereka. Tapi aku tahu itu bukan tawa bahagia. Itu tawa panik. Tawa yang mencoba menyembunyikan rasa takut kehilangan satu demi satu.

Mereka punya arah.

Mereka punya sayap.

Dan aku masih berdiri di tengah lingkaran yang mulai renggang.

Masih belum tahu mau ke mana, belum tahu harus mengejar apa.

Yang kupunya cuma mereka—dan sekarang, mereka mulai berpencar.

“Lo nggak cerita apa-apa, Nat?” tanya Ayu tiba-tiba, matanya menatapku seperti sedang mencari sesuatu.

Aku terdiam. Sebentar.

“Nggak. Aku masih di sini aja. Ngikutin jalan nanti ke mana,” jawabku sambil senyum.

Kalimat yang terdengar bijak, padahal cuma kamuflase dari kebingungan dan rasa takut yang nggak bisa kusebutkan.

Karena gimana caranya bilang:

Aku takut sendirian.

Takut kalau aku bukan siapa-siapa tanpa kalian.

Danau itu jadi saksi senja kami yang mulai pucat.

Kami tetap tertawa, tetap bernyanyi, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang diam-diam pamit di tengah sore.

Mungkin bukan mereka.

Mungkin... cuma masa.

Malam itu aku sendirian di kamar.

Grup chat kami masih ramai, suara tawa dalam bentuk teks masih berseliweran. Tapi setelah layar ponselku mati, sepi itu datang tanpa permisi.

Aku duduk di lantai, bersandar di kasur. Lampu kupadamkan sendiri. Gelap seperti rasa yang sudah lama aku tekan-tekan.

Dan di situlah, aku akhirnya menangis.

Bukan karena aku membenci mereka—tidak.

Bukan karena iri. Tapi karena aku takut ditinggal oleh hal paling tulus yang pernah aku punya.

Tangisku diam, tapi dalam. Air mata turun perlahan, seperti tahu bahwa ini bukan tangis pertama… dan mungkin bukan yang terakhir.

Ini bukan soal perpisahan yang akan terjadi. Tapi soal kehilangan yang mulai terasa sejak belum benar-benar pergi.

Aku selalu berusaha jadi yang paling tenang. Paling siap. Tapi ternyata, yang sok kuat adalah yang paling butuh dipeluk. Dan malam itu, aku cuma bisa memeluk diriku sendiri. Aku nggak tahu harus gimana menghadapi hari-hari setelah ini.

Nggak tahu siapa yang akan duduk di sebelahku saat makan siang nanti, atau siapa yang akan kutelpon kalau tiba-tiba ingin menangis tanpa alasan.

Tapi di sela isak yang pelan, aku sadar sesuatu. Bahwa tidak semua yang pergi benar-benar hilang. Dan tidak semua kehilangan harus ditolak.

Kadang, orang-orang yang kita cintai memang harus pergi jauh... supaya kita belajar berdiri dengan kaki sendiri.

Dan malam itu, di kamar yang sunyi, di lantai yang dingin, aku biarkan diriku rapuh untuk sesaat. Bukan untuk menyerah.

Tapi supaya besok, aku bisa belajar kuat… tanpa pura-pura.

Bukan jarak yang aku takutkan, tapi sunyi yang muncul saat nama kalian cuma tinggal kenangan.

Bandung, 25 Juni 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar