Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juni 2025

Sebelum Kita Saling Jauh

 Oleh : Hastie

 

Aku yang paling jarang menangis di antara kami berlima. Yang paling bisa tertawa paling keras, paling cepat menimpali lelucon, paling cekatan menyusun rencana jalan-jalan ke mana pun. Tapi juga yang paling takut kalau semuanya... pelan-pelan berubah.

Aku jarang bilang. Bahkan mungkin nggak pernah. Tapi setiap kali salah satu dari mereka mulai menyebut kata “pergi,” “kuliah di luar kota,” “beasiswa ke luar negeri,” atau “tinggal jauh dari rumah”—rasanya seperti ada sesuatu yang perlahan lepas dari genggaman. Seperti pasir yang kamu pegang terlalu erat—malah hilang lebih cepat.

Kami berlima, sudah seperti lima titik di ujung bintang. Nggak pernah benar-benar sama, tapi selalu terhubung dalam cahaya yang kami bentuk sendiri.

Fina, yang penuh warna dan ide. Dia selalu bilang Jogja memanggilnya, katanya kota itu paham bahasa hati yang susah dijelaskan.
Raya, si pemimpi besar. Setiap sore dia bercerita tentang Jepang, seolah Tokyo sudah ada di ujung tangannya.
Ayu makin jarang nongkrong, sibuk ngejar nilai, les privat ini itu. Demi masuk jurusan kedokteran yang katanya sudah jadi cita-citanya sejak umur 12.
Nabila, anak paling tenang, yang diam-diam udah mendaftar jadi relawan pengajar di pedalaman. Katanya ingin hidup yang berarti, bukan cuma nyaman.

Dan aku?
Katanya aku kuat.
Katanya aku paling ceria.
Katanya aku selalu bisa mengerti, paling cepat menyesuaikan diri.

Padahal mereka nggak tahu...
Setiap kali dengar kata “nanti,” aku seperti orang yang ditinggal di tengah jalan.
Yang lain terus melangkah, dan aku cuma bisa diam sambil tersenyum, seolah tak ada yang hilang, padahal semuanya pelan-pelan menjauh.

Aku takut.
Takut jadi satu-satunya yang tertinggal di tempat yang sama, dengan memori yang cuma bisa diputar di kepala.
Takut jadi saksi dari sesuatu yang dulu pernah indah… tapi sudah lewat masanya.

Tapi aku tetap tertawa paling keras.
Tetap bilang, “bangga banget sama kalian.”
Tetap jadi yang paling sigap merangkul kalau ada yang sedih.

Karena katanya, yang kuat itu yang paling bisa merelakan.

Padahal aku cuma belum siap kehilangan.
Belum siap berpisah.
Belum siap jadi kenangan di antara cerita-cerita baru mereka.

Minggu lalu kami pergi ke danau belakang sekolah—tempat biasa kami ngumpul sejak kelas sepuluh. Tempat yang dulu cuma jadi pelarian kalau guru olahraga nggak masuk, sekarang terasa seperti museum kenangan. Sunyi, tapi penuh gema.

Obrolan kami masih sama. Tawa masih terurai, cemilan dan lagu-lagu masih menemani kami yang duduk diatas tikar bersejarah.  Hanya suasana yang berbeda, ada sedikit rasa asing menyelinap, semua percakapan sore itu terasa seperti potongan-potongan kalimat selamat tinggal yang dibungkus dalam tawa. Ada jeda-jeda aneh, ada lirikan mata yang terlalu cepat dialihkan.

“Aku udah keterima di program relawan itu,” kata Nabila pelan, matanya menatap danau yang mulai berkilau. “Tiga bulan. Di Flores.”

Kami semua bersorak, memeluknya bergantian. Aku juga ikut. Tapi pelukanku cepat-cepat kulepas, sebelum tanganku mulai gemetar.

“Gue daftar beasiswa Jepang. Mungkin nggak keterima, tapi nyoba aja dulu,” ucap Raya.

Fina langsung nyeletuk, “Gue doain lo dapet! Nanti bawa pulang kimono!”

Ayu dan aku tertawa, tentu aku tertawa paling keras di antara mereka. Tapi aku tahu itu bukan tawa bahagia. Itu tawa panik. Tawa yang mencoba menyembunyikan rasa takut kehilangan satu demi satu.

Mereka punya arah.

Mereka punya sayap.

Dan aku masih berdiri di tengah lingkaran yang mulai renggang.

Masih belum tahu mau ke mana, belum tahu harus mengejar apa.

Yang kupunya cuma mereka—dan sekarang, mereka mulai berpencar.

“Lo nggak cerita apa-apa, Nat?” tanya Ayu tiba-tiba, matanya menatapku seperti sedang mencari sesuatu.

Aku terdiam. Sebentar.

“Nggak. Aku masih di sini aja. Ngikutin jalan nanti ke mana,” jawabku sambil senyum.

Kalimat yang terdengar bijak, padahal cuma kamuflase dari kebingungan dan rasa takut yang nggak bisa kusebutkan.

Karena gimana caranya bilang:

Aku takut sendirian.

Takut kalau aku bukan siapa-siapa tanpa kalian.

Danau itu jadi saksi senja kami yang mulai pucat.

Kami tetap tertawa, tetap bernyanyi, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang diam-diam pamit di tengah sore.

Mungkin bukan mereka.

Mungkin... cuma masa.

Malam itu aku sendirian di kamar.

Grup chat kami masih ramai, suara tawa dalam bentuk teks masih berseliweran. Tapi setelah layar ponselku mati, sepi itu datang tanpa permisi.

Aku duduk di lantai, bersandar di kasur. Lampu kupadamkan sendiri. Gelap seperti rasa yang sudah lama aku tekan-tekan.

Dan di situlah, aku akhirnya menangis.

Bukan karena aku membenci mereka—tidak.

Bukan karena iri. Tapi karena aku takut ditinggal oleh hal paling tulus yang pernah aku punya.

Tangisku diam, tapi dalam. Air mata turun perlahan, seperti tahu bahwa ini bukan tangis pertama… dan mungkin bukan yang terakhir.

Ini bukan soal perpisahan yang akan terjadi. Tapi soal kehilangan yang mulai terasa sejak belum benar-benar pergi.

Aku selalu berusaha jadi yang paling tenang. Paling siap. Tapi ternyata, yang sok kuat adalah yang paling butuh dipeluk. Dan malam itu, aku cuma bisa memeluk diriku sendiri. Aku nggak tahu harus gimana menghadapi hari-hari setelah ini.

Nggak tahu siapa yang akan duduk di sebelahku saat makan siang nanti, atau siapa yang akan kutelpon kalau tiba-tiba ingin menangis tanpa alasan.

Tapi di sela isak yang pelan, aku sadar sesuatu. Bahwa tidak semua yang pergi benar-benar hilang. Dan tidak semua kehilangan harus ditolak.

Kadang, orang-orang yang kita cintai memang harus pergi jauh... supaya kita belajar berdiri dengan kaki sendiri.

Dan malam itu, di kamar yang sunyi, di lantai yang dingin, aku biarkan diriku rapuh untuk sesaat. Bukan untuk menyerah.

Tapi supaya besok, aku bisa belajar kuat… tanpa pura-pura.

Bukan jarak yang aku takutkan, tapi sunyi yang muncul saat nama kalian cuma tinggal kenangan.

Bandung, 25 Juni 2025

Selasa, 28 Mei 2024

Nganjang ka Pakuan, Wisata Edukasi ke Gedung Pakuan, Seru!

Hai, kali ini mau berbagi cerita jalan-jalan yang bukan sekedar wisata tapi ada pembelajaran dan ilmu juga, loh!

Seperti biasa  sayah gak sendiri, pasti satu paket dengan anakku tercinta Hasya. Sudah lama kami tidak mengunjungi tempat-tempat istimewa. Untuk museum di Bandung sudah hampir semua kami kunjungi dan beberapa museum di luar kota seperti Jakarta, Linggarjati, Solo. 

Sabtu, 25 Mei 2024 kami mengunjungi gedung Pakuan di jl. Cicendo
Bandung. Wisata edukasi ini baru saja dibuka jadi langsung kami kunjungi, deh.

Sejarah Gedung Pakuan

Dengan luas kurang lebih tiga hektar gedung ini dihiasi dengan taman dan arsitektur gedung yang indah. Gedung Pakuan ini adalah rumah dinas Gubernur Jawa Barat. Bangunan yang didirikan tahun 1864 ini mempunyai gaya bangunan Indische Empire Stijl.

 

Fasilitas Gedung Pakuan

Disini kami dipersilakan melihat ruang kerja Gubernur dan Istri Gubernur yang berada di area depan gedung.

Ruang Kerja Gubernur

Masuk kedalam ada ruang penerimaan tamu dan kamar tidur Gubernur juga kamar tidur untuk Presiden RI ketika mengunjungi Bandung. Oh, untuk kamar tidur Gubernur tidak diperlihatkan, ya.

Ada beberapa lukisan yang menceritakan beberapa sejarah. Arsitektur dan interior di gedung ini memang masih mempertahankan keasliannya. Indah, itu menurut kami.



Kemudian memasuki ruangan selanjutnya, yaitu ruang resepsi. Disini terdapat meja panjang, piano, kursi santai. Terasa luas dan lapang. Ini adalah ruangan terakhir, selanjutnya kami keluar dari gedung dan terlihat gazebo juga beberapa bangunan lain yang tidak diperkenankan untuk dilihat. Seperti Masjid, ruang olah raga, kolam renang.

Ruang Resepsi

Kami melanjutkan tour ke bangunan sebelah, disini terdapat informasi lengkap mengenai Gedung Pakuan, nama dan foto-foto Gubernur Jawa barat dan Wakilnya dari pertama hingga kini.



selama kurang lebih 25-30 menit kami mengelilingi gedung akhirnya tour selesai. Terdapat juga penjualan oleh-oleh dan kerajinan khas Jawa Barat yang dapat dibeli oleh pengunjung sebelum keluar dari gedung. Yang senang belanja, boleh ngeborong.

Bonusnya adalah kami mendapatkan minuman gratis di pintu keluar, silakan sepuasnya. Alhamdulillah, hilang hausnya.



Cara Reservasi

Penasaran pengen liat sendiri indahnya gedung pakuan dan informasi lengkap dari tour guide nya?

Gini nih cara reservasinya :

1. Pake aplikasi Sapa Warga

2. Tiket bisa dipesan di hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

3. Kunjungan hanya di hari Sabtu dan Minggu dengan sesi pagi jam 09.00 – 11.00 dan sesi siang 13.00 – 15.00

4. Maksimal memilih 5 tiket

Nah, beres, deh. Tinggal datang sesuai pilihan hari dan sesi kedatangan. Selamat menikmati wisata edukasi disini.


Ruang RI 1

Tas tidak boleh dibawa kedalam


 

Kamis, 22 September 2022

Berlian yang Tersembunyi

 

Oleh : Hastie

Disini, di sudut kafe tempat anak-anak muda berkumpul aku duduk sendiri. Terkadang memang aku senang berada disini, menikmati iced coffe sambil memperhatikan sekitar. Kali ini aku melihat beberapa grup anak sekolah, sepertinya mereka baru pulang sekolah.

Mereka bercanda, tertawa, saling menggoda satu sama lain. Bibirku sedikit tersenyum, membayangkan cerita di masa itu, waktu masih berseragam putih abu. Orang-orang bilang masa SMA adalah saat terbaik dalam hidup, jadi nikmatilah!

Entahlah, kurasa benar tapi juga tidak. Apa yang dianggap biasa ternyata adalah hal yang sebaiknya tidak dilakukan. Sepertinya biasa saja pergaulan antara laki-laki dan perempuan, sepertinya tidak apa-apa jika anak muda saling berboncengan dengan motor.

Aku juga melakukan itu, dulu saat belum mengetahui apa yang boleh dan tidak. Kini aku menyesali mengapa tidak dari dulu tahu batasan dalam bergaul. Semoga masih bisa kuperbaiki segala kesalahan itu.

Kembali melihat meja lain yang diisi dua anak muda yang sepertinya sedang berkencan. Duh, aku kembali teringat kelakuanku jaman seumur mereka. Ya, rasanya bahagia saat itu bisa pergi berdua dengan “si dia”. Hasrat hati ingin selalu bersama, melakukan kegiatan berdua, jalan berdua, makan berdua. Lupa bahwa Allah memerintahkan untuk menjaga pandangan.

Sudut mataku menangkap kegiatan lain. Sekelompok gadis berhijab sedang berjalan, entah akan kemana. Memang tempat dudukku dekat dengan jendela, tempat favoritku di kafe ini. Dari sini aku dapat melihat dalam sekeliling kafe sekaligus dapat melihat keluar.

“Maaf, Mas. Ini ada titipan,” ucapan pelayan membuatku berpaling.

“Titipan apa, dari siapa?” tanyaku sedikit bingung.

“Itu, dari meja sebelah sana,” jawab pelayan sambal menunjuk pada meja dengan grup gadis remaja berbaju putih abu.

“Oh, iya. Terima kasih,” aku mengambil kertas kecil yang disodorkan pelayan.

Perlahan aku membuka lipatannya, hanya ada sebaris kata disana, boleh kenalan?

Spontan aku melihat kembali ke arah mereka, dan dari mereka hanya satu orang yang menatapku dengan pandangan mengharap jawaban. Kalau mau mengikuti hawa nafsu diri, tentu akan kujawab, boleh. Untungnya masih ada rasa malu yang memenangkan pergolakan batin.

Kulipat kembali kertas itu, lalu aku berdiri bersiap meninggalkan kafe. Kertas kuletakkan kembali di meja. Tanpa menoleh pada meja gadis itu, aku melangkah keluar. Biarlah mereka menganggap aku pria seperti apa, hanya aku merasa mereka masih terlalu muda untuk memulai hal seperti ini.

Di perjalanan menuju tempat parkir, kembali aku teringat sekelompok gadis dengan hijab yang tampak anggun dengan kesederhanaan mereka. Terbesit dalam pikiranku, adakah mereka memiliki hasrat yang sama dengan gadis seusia mereka?

Mungkin saja, tapi mereka dapat menjaga gejolak itu sehingga tidak terlihat oleh orang lain. Bukankah Allah menitipkan rasa suka dan cinta pada sesama, jadi ada kemungkinan mereka mengidolakan seseorang hanya berbeda cara menunjukkannya.

Batasan dalam bergaul pasti sudah mereka ketahui, membuat mereka menjadi berlian yang tersembunyi, itu menurutku. Ingin kudapatkan salah satu berlian tersebut. Semoga aku segera menemukannya.

Tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil, "Mas, tunggu sebentar!"

Bandung, 24 Agustus 2022

Selasa, 17 Maret 2015

Waktu

Teringat kembali dengan blog ini yang sudah lama gak "terjamah"
Teringat betapa asyiknya menulis dan menumpahkan segala rasa yang ada, dan mencoba berlatih merangkai kata sehingga menjadi berguna untuk yang membacanya.
Meskipun, gak tau ada atau tidak yang membaca :)

Hari ini 15 Januari 2015
Tulisan pertama di awal tahun, adalah tentang betapa berartinya waktu untuk kita semua.
Waktu kalau diperhatikan apa istimewanya? bentuknya gak ada, warnanya juga gak terlihat, tapi semua dari kita percaya bahwa waktu itu ada.
Waktu, setiap orang kalau tergesa-gesa dan ditanya kenapa, pasti jawabannya mengejar waktu.
Waktu, begitu membuat orang menjadi lupa diri.
Waktu juga yang membuat orang lupa, seperti kata pepatah " waktu akan membuatmu lupa" (bener gak sih ini pepatah?

Hari ini 17 Maret 2015
Sudah lewat 2 bulan lagi ajah dan tulisan ini masih belum selesai. Banyak hal terjadi dalam 2 bulan, banyak cerita tercipta dalam 2 bulan.
Baiklah, mari kita teruskan tentang waktu. Jadi, sebenarnya apa dan siapa waktu itu?
tidak ada yang tahu dan tidak ada yang paham apa yang dimaksud dengan waktu, hanya saja semua orang memerlukan waktu untuk banyak hal.

Seperti, minta waktu untuk berpikir, minta waktu untuk pergi, minta waktu untuk pembayaran (yg ini sih pengalaman pribadi deh), minta waktu dipercepat atau bahkan diperlambat.
Siapa sih kamu? kadang jawabannya kasih saya saya waktu untuk mengingat, padahal waktu itu tidak berbentuk dan tidak berasa tapi sangat diperlukan. Bahagianya jadi waktu karena selalu dibutuhkan, tapi sedihnya menjadi waktu karena kadang dijadikan alasan untuk berbohong.

Waktu, semua didunia memerlukannya. Katanya butuh waktu untuk menjadi seorang pemenang, butuh waktu untuk menjadi seorang profesional, butuh waktu untuk menjadi pemimpin, dan semua yang berhubungan dengan waktu adalah penting.

Waktunya bangun, waktunya mandi, waktunya makan, waktunya tidur, waktu minum obat, waktu besuk, waktu kunjungan, waktu buka, waktu tutup, waktu bertemu, waktu berpisahh.....aaahhhh begitu berartinya waktu untuk semua orang.

Sekarang pertanyaan penting lainnya adalah, sudahkah kita menghargai waktu?
Sudahkan memanfaatkan waktu dengan baik?
Sudahkah waktu menjadi teman terbaik atau malah menjadi musuh terbesar?

Jawabannya ada didalam diri masing-masing....
Saya?
Masih mencari waktu untuk menjawabnya :)

Jumat, 14 Desember 2012

Ayah...

Ayah...

Malam ini, tiba-tiba pengen banget cerita tentang ayah. Ayahku Rudi Djamil banyak dikenal orang, tidak sedikit juga orang yang nge-fans, kalau pergi kemana-mana kadang aku maunya dibelakang Ayah. Alasannya simple aja, pengen liat ekspresi orang-orang. Lucu-lucu deh, ada yang sampai muter ngeliat Ayah, ada yang langsung nyapa, ada yang manggil, tapi banyak juga yang cuek karena gak tau siapa Ayah hehehe...

Ayah, terima kasih atas semua yang sudah kau berikan. Terima kasih sudah menjadi ayahku. Ayah, maaf aku belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu, bahkan sampai sekarang masih menjadi beban pikiranmu. 

Ayah, do'aku semoga kau selalu sehat, panjang umur, bahagia sepanjang usiamu. 
Ayah, semoga aku bisa memberikan kebahagiaan yang kau inginkan. Semoga apa yang kau inginkan dapat aku wujudkan. Do'a darimu selalu kunantikan.

Ayah, tetaplah tersenyum.
Ayah, tetaplah menjadi pemberi senyum untuk kami, anak-anakmu dan semua orang yang mengenalmu.

hehehe....cukup deh mellow nya.
Next story,

Rudy Djamil, lahir di Tanjung 12 Agustus 1946. Sudah malang melintang di dunia Master of Ceremony (MC), perfilman, dan dunia kreatif lainnya.
Bergabung dengan D'Bodors tahun 70-an. Bermain di beberapa film seperti Drakula Mantu, Kabayan, juga di sinetron Angkot Haji Imron tahun 1996.

Lulusan Fakultas Publisitik UNPAD, kalau sekarang namanya Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD memang sejalan dengan kata hatinya untuk berkiprah di bidang ini. Ayah pernah menjadi Humas di PT. Pupuk Kujang  dan pernah juga menjabat di Departemen Perdagangan. Tapi, berada di belakang meja dan menjalankan pekerjaan kantoran memang bukanlah panggilan jiwa, jadi semua itu ditinggalkan untuk kemudian konsisten hingga saat ini menjadi entertainer.

 Ayah menikah dengan Ibu Ribuonowati tahun 1977, dikaruniai 4 orang anak. Sekarang sudah menjadi kakek dari 3 orang cucu dengan panggilan sayang "Tutung".
Dalam bahasa sunda artinya "gosong" hahahaha....Ini diawali oleh anakku Hasya, awalnya mau dipanggil "Yangkung" tapi, berhubung Hasya belum betul bicaranya jadi bisanya panggil Tutung, dan berlanjut terus sampai besar. Alhasil, sampai sekarang cucunya semua memanggil Tutung.



Saat ini kegiatan Ayah hampir masih sama seperti dulu, masih terima order MC, masih aktif di PMB (Perhimpunan Mahasiswa Bandung), masih momotoran, masih sesepedahan meskipun di dalam kompleks, masih bisa bawa mobil sampai ke Yogyakarta keren kan :)
Masih sempet jadi penyiar radio di  Mara fm Bandung meskipun sekarang sudah engga sih :)

Satu hal yang bertambah adalah, Ayah sibuk ngasuh cucu. Kalau pergi kemana-mana pengennya sama cucu, biar rame katanya. Kalau sama cucunya disuruh apa-apa mau qiqiqi...

Masih banyak hal tentang Ayah yang belum tersampaikan, yang pasti Ayah is the best deh...

Ayah, terima kasih untuk semuanya... 
Untuk semua hal yang sudah Ayah berikan...
Maafkan kami anak-anakmu yang belum bisa membahagiakanmu
Terus do'akan kami ya...
Supaya kami bisa menjadi seperti apa yang engkau mau...

(Bandung, 141212)

Senin, 17 September 2012

Renungan Malam

Seharian ini keluar rumah, ceritanya sih mencari pencerahan dan peluang. Good to try deh.

Pagi berangkat bareng suami tercinta, nebeng sampai depan terus naik angkot diterusin naek ojeg, diterusin jalan sambung lagi pake angkot, terus jalan lagi baru sampai tujuan, rumah temen. Lumayan panjang juga perjalanan, panas pula. Sampai disana, ngobrol ngalor-ngidul, tanya kabar, cerita masa lalu, terakhir menyampaikan niatan awal, selesai deh, tinggal ngopi-ngopi. Ba'da dzuhur pamit pulang, tapi gak langsung pulang ke rumah, mampir dulu ke rumah sobatku.

Pulang dari rumah temen jalan kaki sampai keluar kompleks, naek angkot dan akan diteruskan naik ojeg. Tapi, pas turun angkot mata agak-agak tertarik dengan yang segar-segar, wuih...ada kelapa muda, mampir sebentar beli 2 bungkus, lanjut naik ojeg, tancap mang....
Nyampe juga di rumah sobatku, setelah menempuh jalan yang naek turun (seperti hidupku hehehe) langsung aja kita buka es kelapa muda dingin, nyesss....adem banget.

Cukup deh pembukaannya, kan mau merenung dulu nih...
Sepanjang perjalanan panjang tadi, banyak hal yang awalnya gak aku sadari. Pertama, betapa seharusnya aku bersyukur karena masih diberikan kesehatan dan kemampuan untuk bepergian. Ada beberapa orang yang gak punya kaki, dan harus meminta sedekah dari orang lain untuk menyambung nafas. Jangankan untuk bepergian seperti aku, uang yang dia dapat pasti untuk makan bukan untuk ongkos seperti yang aku lakukan.

Kedua, jangan merasa kita yang paling susah, yang paling merana, yang tidak punya daya upaya....banyak banget diluar sana yang susah untuk sekedar makan, untuk sekedar menghilangkan haus. Jangan juga merasa bahwa usaha untuk mendapatkan uang sudah kita lakukan maksimal, banyak banget yang mempunyai dobel pekerjaan karena tanggung jawab yang menuntutnya. Jangan merasa tidak mungkin untuk bisa maju dan berkembang dalam usaha, karena banyak yang mampu mewujudkan mimpi untuk maju dan berkembang.
Sangat mungkin usaha dan perjalanan hidup mereka jauh lebih berat daripada aku.
Aku yang kini sedang berusaha untuk menapaki mimpi, kadang merasa lelah mengejar mimpi itu. Aku yang bermimpi besar, terkadang merasa tidak mungkin untuk mewujudkannya.

Tapi kini, karena perjalanan hari ini aku menyadari bahwa hidup berbeda antara satu dengan lainnya.
Hidup bukan sekedar mengisi perut dan mengisi dompet. Hidup adalah kebahagiaan jika aku meresapinya, dan menerima apa adanya.

Seperti katanya "kita tidak akan tahu ada apa didepan, jalani dan persiapkan diri sebaik mungkin!" (sedikit pakai kata mutiara boleh ya)

Yups, mari melangkah dengan detak baru, dengan senyuman baru, dengan harapan baru, dan dengan semangat baru.

Awalnya aku merasa tidak yakin akan kemampuan diri, tapi sekarang aku percaya jika suatu pekerjaan dilakukan dengan sepenuh hati maka hasilnya akan melebihi apa yang aku perkirakan.
Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur adalah hal penting untuk dilakukan.

Ceritanya masih ada nih, sore pulang dari rumah sobatku, dianterin sampai jalan besar naik motornya (padahal dia lagi hamil besar) terus lanjut naik angkot, jalan kaki menuju rumah teman kantor lamaku. Ngobrol masa lalu, menyampaikan niatan awal ketemu, janjian ketemu lagi, adzan magrib berkumandang. Pamit pulang, ternyata hari udah gelap. Perjalanan dimulai lagi, jalan kaki, naik angkot, lanjut naik ojeg, diteruskan nyebrang jalan kembali naik angkot, turun angkot lanjut naik lagi, diturunin bukan di terminal dan terakhir jalan sampai rumah. Indah nian perjalanan hari ini.
Buka pintu dengan salam disambut dengan tangisan anakku Hasya tersayang, kembali menjalani sisa malam menjadi ibu rumah tangga.
Indahnya hidupku, penuh warna dan kejutan baru. Love you all...







Jumat, 07 September 2012

Berenang

Beberapa waktu lalu, rame-rame satu RT berangkat ke Ciater, Subang. Berangkat pagi naik bus, Hasya juga ikut dong jelas, Ibunya ikut. Perjalanan cukup lama tapi asyik, ada yang tidur hehehe... ada yang ngobrol, ada yang baca buku, dan ada yang karaoke-an. Asyik kan? kalau aku dan Hasya asyik ngeliat pemandangan diluar bus, Hasya sibuk banget tanya-tanya apa ini, apa itu, kenapa, dan banyak lagi deh.

Singkat cerita kita sampai deh disana, Hasya langsung semangat banget buat berenang. "ayo atuh bu, cepetan ganti baju, Kaka udah pengen berenang" katanya sambil narik-narik tanganku.
Dengan sedikit ketarik-tarik, akhirnya sampai juga ke tempat ganti baju dan setelah ganti baju langsung deh nyebur (tapi, masih tetep narik-narik)

Masuk ke kolam, tetep bergaya dulu ah....
Hasya yang pake baju renang biru tuh, gayanya paling asyik yah hehehe....

Berenangnya gak lama2 sih, karena emang gak bisa buat maen air, hanya untuk berendam. Akhirnya, setelah ganti baju, makan, acara bareng-bareng maka saya, Hasya, dan Tika (sobatku) jalan-jalan di sekitar situ.
Udah lama gak dateng kesini ternyata udah rame aja tempatnya. Ada mainan anak, ada perahu bebek, ada flying fox juga, terus ada juga parit-parit kecil kalau kita gak mau nambah uang untuk masuk ke kolam.

Menurut pengalaman saya nih, kalau mau main ke Ciater diusahakan datang pagi-pagi supaya belum terlalu banyak orang. tapi, memang gitu yah kalau mau ke tempat wisata manapun yah :)
Karena waktu itu kami datang pagi-pagi jadi di kolamnya pun masih kosong, kan enak tuh, gak rebutan dengan orang lain.

Oh, iya...kalau memang hanya mau rendam kaki, gak usah deh masuk ke kolam. Parit-parit kecil banyak kok dan itu gratis, tempatnya agak lebih masuk ke dalam yah....

Jangan ragu datang dengan anak yang masih balita, soalnya Hasya juga betah-betah aja tuh karena permainannya lengkap. Ada ayunan, serodotan, dan ada yang jualan es krim keliling juga....komplit deh. Abis main terus laper, jangan takut ada kafetaria juga kok.

Pokoknya seru deh main kesini, gak bosen dan gak kapok...setuju kah teman-teman?


Kisah Lama


Teringat akan kisah lalu yang berbunga
Kadang masih terasa wangi dan aroma bunga itu
Harum dan menenangkan hati

Teringat akan kisah lalu yang bertabur bintang
Kadang cahaya dan indah bentuknya masih terbayang
Terang dan memikat mata yang melihatnya

Ingin rasanya kembali pada masa itu
Dimana hanya ada asa dan bahagia
Ingin rasanya mengubah cerita lalu
Dimana air mata dan kebimbangan diabaikan

Namun,
Masa kini adalah jawabannya
Masa kini adalah masa memperbaiki segalanya
Masih ada masa kini untuk merajut masa depan

Marilah,
Bersama bergandengan tangan mencari kebahagiaan
Bersama berlari mengejar mimpi kita
Bersama dan selalu bersama hingga ajal memisahkan

Jumat, 24 Agustus 2012

Galau

Galau...
Emang lagi hapening banget kata-kata ini, jadi aja aku ikut-ikutan nih.
Malem-malem gini emang paling enak buat merenung dan mencoba memahami apa arti hidup kita.
Berat yah topiknya?

Gak apa-apa deh, temenin aku yang sedang galau ini yah...
Memang hidup gak selamanya indah, gak selamanya bahagia.
Tapi,
bukan berarti harus sedih dan tidak bahagia juga selamanya kan?

Saat ini mungkin ada yang sedang resah, gundah gulana?
Sama dong...
Liat status orang lain yang isinya bagus-bagus bukan jadi penyemangat malah jadi bumerang
kok saya gak bisa seperti itu yah?
nah,
itu artinya sedang galau...

#perasaan gak bener nih postingan#

Lanjut...
Ada masanya dimana kita merasa sendirian
Merasa yang paling gak ada artinya
wah, itu namanya galau tingkat dewa hehehe...

Padahal kalau kita pikirin lagi nih, masih ada ortu, suami, istri, anak, ade, kaka, om, tante, kakek, nenek
Masih kurang? gak dong...
Belum lagi temen-temen yang udah ngantri di belakang
Masih belum cukup?
Ada fakir miskin yang dengan senang hati dikunjungi oleh kita

Oke...makin serius nih
Galau oh Galau...
kadang perasaan itu diperluin juga sih
yah, sekedar buat memberi ruang baru untuk perasaan lain gitu (gak ngerti yah)
pokoknya sih, intinya...
manusia perlu rasa galau, supaya bisa memahami lebih jauh tentang perasaan bahagia.

end of story...edisi gak puguh