Jumat, 15 Mei 2026

Senja Setelah Hujan


Langit selepas hujan selalu terlihat lebih jujur.

Mungkin karena ia tidak lagi sibuk menyembunyikan tangisnya.

Perempuan itu berdiri di balik jendela rumah sambil menggenggam secangkir teh yang mulai dingin. Usianya empat puluh tahun, tetapi hidup membuat matanya tampak lebih tua dari itu. Ada lelah yang menetap di sana. Lelah yang tidak bisa hilang hanya dengan tidur semalam.

Halaman depan rumah masih basah, tanaman seakan berseri karena disapa hujan. Suara air menetes dari ujung genting yang teratur terdengar pelan. Angin sore membawa aroma tanah dan kenangan yang tidak diundang.

Ia menengadah menatap langit.

Awan-awan kelabu perlahan menyingkir, menyisakan semburat jingga yang lembut di ufuk barat. Cantik sekali sampai dadanya terasa nyeri.

Dulu ia pernah sebahagia itu.

Pernah menunggu seseorang pulang dengan hati berbunga-bunga. Pernah percaya bahwa cinta akan tinggal selamanya. Pernah berpikir rumah tangga adalah tempat paling aman untuk pulang.

Sampai suatu hari, kekosongan menyapa, ada perpisahan tanpa benar-benar menjelaskan alasan.

Meninggalkan meja makan  menjadi terlalu sunyi.

Meninggalkan lemari penuh baju yang tak lagi disentuh.

Meninggalkan dirinya yang perlahan berubah menjadi perempuan asing di depan cermin.

Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan.

Nyatanya, ada luka yang hanya belajar diam, bukan benar-benar hilang.

Ia tersenyum kecil, hambar.

Kadang ia iri kepada hujan. Setidaknya langit boleh menangis terang-terangan tanpa ditanya kenapa.

Sedangkan perempuan seusianya harus tetap terlihat kuat.

Harus tetap memasak.

Tetap menyapa tetangga.

Tetap tertawa di depan anak-anak agar tidak ada yang khawatir.

Padahal ada malam-malam ketika ia duduk sendirian, bertanya kepada Allah dengan suara gemetar, “Apa aku masih pantas bahagia?”

Suara azan magrib mulai terdengar dari masjid, hangat, pelan.

Lembut.

Mengetuk sesuatu di dalam hatinya yang sudah lama mati rasa.

Ia memejamkan mata perlahan.

Bukankah hidup memang seperti langit setelah hujan?

Tidak pernah benar-benar kembali seperti semula. Tetapi tetap indah dengan caranya sendiri.

Dan bukankah Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa kehilangan?

Allah hanya meminta manusia percaya bahwa setelah sesulit apa pun badai, selalu ada alasan untuk tetap bertahan.

Perempuan itu menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Seolah langit sore sedang berbisik pelan kepadanya, bahwa tidak semua yang pergi berarti akhir dari segalanya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja teras.

Satu pesan masuk dari nomor yang belum pernah ia simpan.

Tangannya terdiam sesaat ketika membaca isi awal pesan itu.

“Assalamu’alaikum… apa kabar? Aku pulang.”

Dan mendadak, langit senja yang tadi terasa tenang kembali membuat jantungnya berisik.

 

Bandung, 15 Mei 2026

Sesaat setelah hujan menyapa dan mengusir panas yang mendominasi seharian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar