Langit selepas
hujan selalu terlihat lebih jujur.
Mungkin karena ia
tidak lagi sibuk menyembunyikan tangisnya.
Perempuan itu
berdiri di balik jendela rumah sambil menggenggam secangkir teh yang mulai dingin.
Usianya empat puluh tahun, tetapi hidup membuat matanya tampak lebih tua
dari itu. Ada lelah yang menetap di sana. Lelah yang tidak bisa hilang hanya
dengan tidur semalam.
Halaman depan
rumah masih basah, tanaman seakan berseri karena disapa hujan. Suara air menetes dari ujung genting yang teratur terdengar
pelan. Angin sore membawa aroma tanah dan kenangan yang tidak diundang.
Ia menengadah
menatap langit.
Awan-awan kelabu
perlahan menyingkir, menyisakan semburat jingga yang lembut di ufuk barat.
Cantik sekali sampai dadanya terasa nyeri.
Dulu ia pernah
sebahagia itu.
Pernah menunggu
seseorang pulang dengan hati berbunga-bunga. Pernah percaya bahwa cinta akan
tinggal selamanya. Pernah berpikir rumah tangga adalah tempat paling aman untuk
pulang.
Sampai suatu
hari, kekosongan menyapa, ada perpisahan tanpa benar-benar menjelaskan alasan.
Meninggalkan meja
makan menjadi terlalu sunyi.
Meninggalkan
lemari penuh baju yang tak lagi disentuh.
Meninggalkan dirinya
yang perlahan berubah menjadi perempuan asing di depan cermin.
Orang-orang
bilang waktu akan menyembuhkan.
Nyatanya, ada
luka yang hanya belajar diam, bukan benar-benar hilang.
Ia tersenyum
kecil, hambar.
Kadang ia iri
kepada hujan. Setidaknya langit boleh menangis terang-terangan tanpa ditanya
kenapa.
Sedangkan
perempuan seusianya harus tetap terlihat kuat.
Harus tetap
memasak.
Tetap menyapa
tetangga.
Tetap tertawa di
depan anak-anak agar tidak ada yang khawatir.
Padahal ada
malam-malam ketika ia duduk sendirian, bertanya kepada Allah dengan suara
gemetar, “Apa aku masih pantas bahagia?”
Suara azan magrib
mulai terdengar dari masjid, hangat, pelan.
Lembut.
Mengetuk sesuatu
di dalam hatinya yang sudah lama mati rasa.
Ia memejamkan
mata perlahan.
Bukankah hidup
memang seperti langit setelah hujan?
Tidak pernah
benar-benar kembali seperti semula. Tetapi tetap indah dengan caranya sendiri.
Dan bukankah
Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa kehilangan?
Allah hanya
meminta manusia percaya bahwa setelah sesulit apa pun badai, selalu ada alasan
untuk tetap bertahan.
Perempuan itu
menarik napas panjang.
Untuk pertama
kalinya setelah bertahun-tahun, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Seolah langit
sore sedang berbisik pelan kepadanya, bahwa tidak semua yang pergi berarti
akhir dari segalanya.
Tiba-tiba
ponselnya bergetar di atas meja teras.
Satu pesan masuk
dari nomor yang belum pernah ia simpan.
Tangannya terdiam
sesaat ketika membaca isi awal pesan itu.
“Assalamu’alaikum…
apa kabar? Aku pulang.”
Dan mendadak,
langit senja yang tadi terasa tenang kembali membuat jantungnya berisik.
Bandung, 15 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar