Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2024

Kami dan Kereta Kahuripan

Perjalanan dengan kereta kahuripan sebenarnya bukan yang pertama bagi kami, Hasya dan saya. Beberapa kali kami memilih kereta ini untuk perjalanan kami menuju Yogyakarta.

Kereta kahuripan adalah kereta ekonomi dengan rute Kiaracondong - Blitar PP.  Kereta ekonomi ini menjadi salah satu favorit, karena harga tiket yang sangat terjangkau. Menjadi pilihan favorit terlihat dari selalu habis tiketnya.

Jangan berharap mendapat tempat duduk yang diinginkan jika membeli tiket dekat dengan waktu pemberangkatan. Apalagi ketika pergi berombongan, disarankan untuk membeli tiket jauh hari karena sekarang KAI sudah mempermudah pembelian tiket dapat dilakukan 45 hari sebelum keberangkatan. Asyik, kan?

Baiklah pembukaan dengan informasi kereta kahuripan sudah, sekarang cerita kami dan kereta kahuripan.

Siapa kami? Adalah 7 orang yang terdiri dari 3 Ibu dan 4 Anak yang ingin merasakan pengalaman naik kereta kahuripan. Start dari stasiun kiaracondong menuju stasiun lempuyangan, Yogyakarta. 

Baru saya dan Kaka Hasya yang sudah menjajal kahuripan, 5 orang lainnya, belum. Jadi ini adalah pengalaman pertama mereka. Gimana kesannya? Lanjutkan baca, ya.

Karena perjalanan ini bisa dibilang dadakan, jadi kami baru membeli tiket dekat dengan hari keberangkatan, sehingga kami duduk terpisah.

Untuk yang belum tahu, kereta kahuripan ini memiliki formasi 2-3 dan berhadapan. Kursi tegak tidak dapat diputar atau digerakkan. Posisi sedikit berdekatan, sehingga kemungkinan lutut penumpang yang duduk berhadapan saling bertemu itu sangat besar.

Jadi, kami mendapat tempat duduk agak berjauhan meski masih satu gerbong. Isma dan 2 anak duduk di kursi ber-6, saya dan Uwie dengan masing-masing 1 anak duduk di kursi ber-4 dan ini pun tidak bersebelahan tapi berhadapan dan di sebelah gang.

Bisa dibayangkan, kami sulit mengobrol bahkan untuk Uwie dengan Khal yang masih berusia 9 tahun pasti mengalami kesulitan. Tapi, bersama kesulitan ada kemudahan, bukan? 

Di kursi saya dan Hasya, 2 kursi masih kosong. Jadi kami duduk bersebelahan dan Khal bisa tidur selonjoran untuk sesaat, karena di Tasik pemilik kursi datang. Khal pindah kembali ke tempat duduknya. Agar nyaman, Uwie menyimpan tas diantara kaki jadi Khal bisa tidur selonjoran dengan kepala di Uwie dan kaki di tempat duduknya. Lumayan nyaman untuk Khal dan lumayan pegal untuk Uwie.

Pengorbanan Ibu nyata adanya, ya!

Oh, iya perjalanan Bandung-Yogya kurang lebih selama 7 jam. Karena berangkat malam sehingga tidak terlalu terasa karena dipakai untuk tidur.

Apakah perjalanan lancar? Sedikit bermasalah sebenarnya. Bukan dari kami tapi dari penumpang lain. Mereka sepertinya rombongan, karena mereka mengobrol dengan suara keras, bergantian duduknya. Dan yang lebih mengganggu adalah mereka memasang audio berisi ceramah. Oke, bukan masalah ceramahnya tapi volume suara yang terlalu keras menurut saya membuat penumpang lain sedikit terganggu.

Memang ceramah itu baik, tapi jika di tempat umum dan sudah malam mungkin harus dipikirkan lagi, takut mengganggu. Kita tidak tahu bagaimana penumpang lain, apakah ingin beristirahat atau tidak.

Untuk kalian, tolong apabila di tempat umum hormati orang lain. Jangan sampai karena kita merasa itu baik malah jadi mengganggu.

Akhirnya audio dimatikan sekitar pukul 12 lebih. berarti sekitar 2 jam kami mendengarkan.

Kereta Kahuripan berangkat pukul 22.20 dan tiba di Lempuyangan pukul 06.12 pagi. Jadi, kami solat subuh di kursi masing-masing.

Di kereta kahuripan juga ada restorasi, kalau ingin makan atau minum dengan sedikit nyaman silakan menuju restorasi. Di sana lebih lapang, tersedia juga berbagai pilihan makanan.

Atau kalau malas untuk ke restorasi karena harus melewati beberapa gerbong, bisa juga memesan makanan dan minuman dari petugas yang akan menawarkannya ke setiap gerbong.

Akhirnya kami sampai di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. 

Bagaimana penilaian anak-anak tentang kereta ini? Cukup kata mereka, cukup pegal hehehehe....

Walau pegal tapi mereka bisa tidur, kok. Walau duduknya sempit tapi masih bisa menikmati. Terima kasih anak-anak, kalian memang okey. Gak ngeluh dan tetep antusias menyambut jalan-jalan kita di Yogyakarta.

Begitulah sedikit gambaran kereta kahuripan, seperti yang saya bilang kepada mereka : "Naik kereta ekonomi bukan mencari kenyamanan tapi mendapatkan pengalaman"

kami di stasiun kiaracondong



Jumat, 30 Desember 2011

Liburan ke Yogyakarta

Yogyakarta, kota favorit saat liburan

Mau cerita perjalanan singkat ke yogyakarta nih....berhubung kakakku mas Dito udah lama banget tinggal di sana, dari tahun 1997 berarti udah 14 tahun yah?! jadi kita suka banget kalau pergi ke sana.
Dulu waktu dia masih awal-awal kuliah di UGM dan masih nge-kos, kita sekeluarga rela loh tidur numpuk di kamar kosannya hehehe....kebayang dong kamar cuma 3X3 meter, isinya berempat. Penuh banget dech!
Beberapa kali dia pindah kos-kosan, yang paling asyik menurutku sih yang di Gowongan, soalnya kosannya itu satu rumah dengan beberapa temannya dia, jadi kalo kita dateng gak harus tumpuk2an, soalnya kakakku ngungsi ke kamar laen, nebeng temennya hehehe.....

Selain itu, kosannya di gowongan sebelahnya tempat baso, di depannya sedikit ada tukang nasi kucing, trus jajanan murah karena deket sekolahan, jadi kalo haus tinggal beli es teh manis dengan harga hanya Rp. 250 saja....mantapsss

Dan yang paling jadi bikin favorit sih....tempatnya deket banget dari jalan Malioboro, asyiikkk banget....gak usah nunggu kakakku punya waktu buat nganterin kita jalan-jalan, pergi sendiri juga bisa. Mau jalan kaki boleh...mau naek becak tinggal naek, mau naek bus juga ada.....TOP banget deh.
kalau Ibu aku sih, punya tempat favorit lain yaitu pasar kranggan di pasar ini banyak jajanan murah meriah juga, untuk ke pasar ini Ibu tinggal jalan kaki, bahkan Ibu sampai tahu jalan pintas menuju pasar kranggan, hebat yah!
Jadi, kadang kalau kita bangun Ibu udah gak ada aja dirumah, ternyata udah pergi ke pasar.

Oke, cukup deh napak tilas :)
Sekarang karena Mas Dito sudah menikah, eh, karena dia bekerja di radio Swaragama FM jadi dia terkenal dengan nama Mas Adit, biasa kalau penyiar pasti punya nama udara yah....
Nah, kemaren ini istrinya sudah hamil 4 bulan, jadi ngadain pengajian dong. Akhirnya, aku, anakku, Ibuku, dan Ayahku Rudy Djamil pergi deh ke Yogya, naik mobil dan Ayahku dong yang menyetir sendiri....hebatkan Ayahku...

hari Rabu siang kami berangkat, puter-puter dulu cari oleh-oleh dilanjutkan makan siang dulu baru berangkat beneran deh ke yogya. Isya kami sampai di Ciamis berhenti sebentar untuk istirahat dan sholat, dilanjutkan lagi dan berhenti lagi di Candisari di daerah Karanganyar kalo gak salah...
Takjubnya diriku karena anakku Hasya (3.5 th) gak keliatan capek, sepanjang jalan nyanyi-nyanyi, pindah dari belakang ke depan, tiduran bentar bangun lagi, berdiri terus duduk, gak ada capeknya :)

Akhirnya subuh kita nyampe juga di yogya, berhubung Ayahku udah capek, tiba-tiba jadi lupa jalan menuju hotel Omah Semar deh hehehe....biasanya lancar, tapi kok jadi lupa yah? akhirnya menelpon bantuan deh, mas adit. Kami menunggu di dekat stasiun KA Tugu deh, Hasya masih tidur karna emang waktunya tidur kan? udara subuh seger banget deh.

Begitu mas Adit dateng, langsung kita berangkat ke Omah Semar, dan ternyata gampang banget yah. Ayah salah ambil jalan harusnya belok kiri malah kanan, jadi aja gak ketemu. Maklum malem jalan kelihatan sama semua :)
Waktunya istirahat deh, tapi ternyata Hasya udah gak ngantuk, jadi setelah mandi langsung berangkat deh  kita cari sarapan. Soto hangat di pagi hari terasa sangat nikmat, kembali ke hotel dengan perut kenyang dan bubur gudeg untuk Ayah yang masih tidur karna kecapean.

Setelah kenyang baru deh Hasya tidur lagi, pake selimut loh! tumben banget mau pake selimut, biasanya ditendang-tendang selimutnya. Kurang lebih jam 10.30 Aku dan Hasya udah bangun, dan dia udha ribut aja pengen keluar jalan-jalan. Karena Ayah dan Ibu masih tidur, akhirnya kita berdua jalan keluar di sekitaran hotel, ketemu deh dengan minimarket, eskrim incaran pertamanya. "Bu, kalau makan eskrim gimana ya?" tanyanya dengan mimik menggemaskan, gak mungkin ditolak deh.
"enak kayanya de" jawabku
"kalo gitu dede mau bu, boleh yah?" sambil ngeloyor ngedeketin freezer
"boleh deh, mau yang mana?" jawabku

Selesai dari minimarket, langsung ribut deh minta pulang ke hotel karna pengen cepet makan eskrim. Sambil duduk di kursi depan yang mirip perahu bentuknya kami makan eskrim berdua, terus pindah ke taman belakang. Eskrim habis dalam hitungan menit, cepet banget.

Sore kita berangkat ke rumah mas Adit untuk menghadiri pengajian 4 bulanan calon anaknya, sssstttt.....masih sempet buat ngerjain bisnis aku loh, masih bisa ambil barang pesenan, mantap deh bisnisku ini. Lanjut...ternyata acaranya sampai malem banget, jam 11 malem baru pamit pulang. Tapi, ada asyiknya juga nih dalam perjalanan pulang ternyata kita melewati tukang duren, berhenti dulu dong pasti....mantaps malam hari di yogyakarta makan duren pinggir jalan bareng-bareng. Hasyaku seneng banget, habis banyak juga tuh durennya :)
Tangah malem baru sampai hotel, ganti baju, tidur deh langsung Hasyaku.

Berita duka diterima Ayah di saat subuh, ada telepon mengabarkan bahwa Aom Kusman meninggal dunia. Innalillahi Wainnailaihirojiun....Ayah awalnya udah pengen langsung pulang ke Bandung saat itu juga, tapi gak mungkin Hasya masih tidur dan mungkin gak sampai juga waktunya untuk mengantar jenazah. Akhirnya, rencan pulang hari sabtu pagi dipercepat menjadi jum'at pagi dengan tujuan mudah2an bisa melayat langsung hari itu juga.
Rencana tinggal rencana, kami  sampai Bandung jam 8 malem langsung menuju buahbatu ternyata rumah di rajamantri sudah di gembok. Akhirnya kami pulang ke rumah, dan keesokan harinya baru Ayah dan Ibu melayat ke rumah alm. Aom Kusman.

Tanggal meninggalnya Aom Kusman bersamaan dengan tanggal lahir mas Adit, jadi akan teringat selalu. Ya, Allah...terimalah Iman Islamnya, ampuni segala kesalahannya, terimalah amal solehnya, lapangkan kubirnya, dan jauhkan dari siksa kubur, amiinn....

Itulah, kisah perjalanan singkat tapi penuh cerita. Yogyakarta memang punya cerita tersendiri untukku dan keluargaku. I love this journey and i'm proud to you my lovely Hasya.

Silahkan yang mempunyai kisah, berbagi yuks!