Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2022

Aku, Kamu, dan Cerita Kita

 Oleh : Hastie

Terdengar panggilan dari pengeras suara agar peserta lomba segera berkumpul. Hari ini diadakan perlombaan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-77 tahun. Berbagai lomba digelar, banyak warga yang datang. Tempat pelaksanaan di lapangan agar lebih leluasa dan tidak terlalu mengganggu.

Dengan berlari, Naima dan Lia bergegas menuju lapangan. Mereka tidak mau terlambat mengikuti lomba. Mereka berdua adalah sahabat, selain karena rumah yang berdekatan sekolah pun sama. Mereka selalu terlihat bersama. Karena sekolah mereka dekat dengan rumah jadi tidak perlu diantar orang tua, mereka kadang berjalan menuju sekolah kadang naik sepeda. Jadi, bisa dikatakan dimana ada Naima disana ada Lia.

Tak berapa lama, mereka tiba di lapangan. Ternyata sudah banyak anak-anak lain yang datang, mereka langsung saling menyapa.

“Hai, Gina. Kamu mau ikutan lomba apa aja?” tanya Naima ketika melihat Gina.

“Ikut semua lomba, biar seru,” jawab Gina dengan semangat.

“Aku juga, ikut semua, deh. Iya, kan, Li?” sahut Naima sambil melihat Lia.

“Iya, dong,” sambut Lia sambil mengepalkan tangannya tanda setuju.

Selanjutnya, bersama-sama mereka menuju meja pendaftaran. Terlihat wajah yang sumringah, semangat dari wajah mereka bertiga. Bukan hanya mereka bertiga yang terlihat antusias, semua anak, remaja, dan dewasa terlihat menikmati suasana hari ini. Belum lagi makanan dan minuman yang tersaji, sangat banyak dan beragam, dan semua gratis. Boleh ambil sebebasnya. Menyenangkan sekali!

Masih ada waktu sebelum perlombaan pertama dimulai. Naima dan Lia mempergunakan kesempatan ini untuk mengambil cemilan, hanya kali ini mereka berbeda keinginan. Naima ingin mengambil minuman tapi Lia ingin mengambil es lilin. Beberapa saat mereka saling berdebat mau mengambil apa.

“Kita ambil es, yuk!” ajak Lia.

“Engga, ah. Kita ambil minuman itu aja sepertinya lebih enak,” jawab Naima sambal berjalan mendahului Lia untuk menuju stand minuman.

“Kamu suka gitu, suka maunya sendiri aja. Aku tetep mau ambil es,” Lia menjawab dengan kesal dan pergi meninggalkan Naima.

Beberapa saat mereka saling diam dan tidak menyapa, padahal sebentar lagi perlombaan dimulai. Meskipun bersahabat tapi tetap saja ada saat dimana mereka tidak sepakat. Pertengkaran kecil kadang terjadi.

Akhirnya lomba dimulai, panitia mulai mengumumkan nama-nama anak yang akan mengikuti perlombaan. Untuk lomba pertama Naima dan Lia tidak bersama, biasanya mereka akan saling memberi semangat tapi karena sekarang sedang bertengkar tidak ada teriakan memberi semangat untuk satu sama lain.

Aksi diam-diaman berlangsung sampai seluruh perlombaan selesai. Tiba waktunya pembagian hadiah. Lia berhasil memenangkan satu lomba sedangkan Naima tidak menang dalam satu lomba pun. Naima pulang dengan muka sedih, dan sendiri.

Yang paling membuat Naima sedih bukan karena tidak memenangkan satu lomba pun, tapi karena pertengkarannya dengan Lia. Pertengkaran yang sebenarnya tidak perlu terjadi hanya karena berbeda keinginan seharusnya dapat diatasi. Entah mengapa hari ini menjadi berkepanjangan.

Lia melihat sahabatnya pulang dengan muka sedih jadi merasa bersalah dan ikut sedih. Tidak sampai hati dia melihat Naima pulang sendirian, akhirnya mengejar.

“Naima, tunggu, dong. Jangan cepet-cepet gitu jalannya,” kata Lia sedikit berteriak karena Naima sudah berjalan agak jauh.

Naima pun menengok ke belakang, lalu berhenti berjalan menunggu Lia mendekat.

“Hai, aku pikir kamu masih marah,” kata Naima begitu Lia sudah dekat.

“Tadinya, tapi ngeliat kamu jalan sendirian sambil mukanya ditekuk gitu aku jadi ikutan sedih,” goda Lia sambil senyum.

“Ditekuk, emangnya muka aku apaan,” jawab Naima sambil tersenyum juga.

“Udah, ya, kita jangan bertengkar lagi. Baikan, ya. Lagian ini bingkisan punyamu lupa kamu bawa,” ajak Lia sambil memberikan bingkisan berisi berbagai cemilan dan minuman.

Naima mengangguk senang dan mengambil bingkisan itu. Mereka kembali berbaikan, berjalan kembali bersama. Tersenyum bersama kembali.

Persahabatan adalah hal indah yang dapat dimiliki siapa saja. Carilah sahabat yang dapat membawa pada kebaikan, sahabat yang selalu mengingatkan pada kebaikan. Jika sudah mendapatkannya jangan lepaskan.

“Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya.” (HR. Hakim)

Bandung, 21 Agustus 2022




Aku Adalah Aku

oleh : Hastie

Setiap insan dilahirkan dengan keistimewaan berbeda, memiliki fungsi hidup masing-masing. Allah telah menyusun dengan indah dan sempurna. Tidak ada yang dibedakan, adapun kekurangan yang dirasa berbeda mestilah ada kelebihannya.

Idealnya demikian, beruntunglah mereka yang merasakan kebaikan itu. Aku adalah pengecualian sepertinya, ya, karena rasanya belum pernah kurasa menjadi aku sendiri. Sependek ingatanku, aku hanyalah boneka dari obsesi orang tua. Jika orang lain dapat dengan yakin mengatakan warna kesukaan, aku tetap harus mengikuti pendapat Papa dan Mama. Merah, itu warna kesukaanku kata mereka, bahkan pernak-pernik yang kupunya kebanyakan berwarna merah. Tapi, hei … siapa yang memilih semua itu? Ya, mereka.

Kalian tahu ketika aku lelah dan merasa ingin lepas dari segala aktivitas yang rutin, kedua orang yang merasa lebih baik dariku mengatakan bahwa istirahat itu tidak baik.

“Coba lihat anak Papa yang kemarin itu, dia gak pernah ngeluh capek. Padahal kegiatan dia lebih banyak dari kamu. Kamu masih bisa tidur jam 11 malem, dia jam 12. Kamu masih bisa santai kalau makan, dia itu dibatasi waktu makannya,” panjang lebar Papa berkata.

Lain waktu, ketika aku terlambat pulang karena bertemu teman lama di parkiran mobil. Ramah tamah sedikit, aku hanya bertanya kabar dan basa-basi sedikit. Ternyata menyenangkan mengobrol dengan teman itu, ya? Aku bisa tersenyum dan merasa bebas sebentar. Iya, hanya sebentar.

Sampai di rumah, Mama sudah menunggu di teras rumah dengan ekspresi yang membuat bulu kuduk berdiri. Atmosfer langsung berubah, seakan waktu berhenti dan berganti menjadi suasana horor.

“Kenapa terlambat, kamu kemana dulu? Gimana bisa kamu seperti Gani kalau kamu gak disiplin seperti ini?!” ini kalimat pertama yang langsung Mama keluarkan.

“Maaf, Ma,” hanya itu jawaban yang bisa kuucapkan.

“Maaf, maaf, cuma itu yang kamu bisa bilang. Udah, cepet ganti baju terus langsung berangkat les piano. Awas, jangan terlamabat atau males-malesan. Gani baru les sebentar tapi udah lebih jago dari kamu. Kamu ngapain aja kalau lagi les, sih?” lanjut Mama sambil berjalan mengikutiku ke kamar.

Bukan hanya dua orang itu yang sering Mama dan Papa sebut-sebut. Masih banyak nama lain yang katanya adalah anak-anak yang istimewa tidak seperti aku yang prestasinya segitu saja. Ranking 1 di kelas masih belum cukup, menjadi murid terbaik di sekolah itu yang seharusnya. Menjadi pemenang dalam setiap perlombaan yang aku ikuti itu keinginan mereka.

Aku adalah aku, terkadang ingin aku mengatakan itu pada mereka. Tolong berhenti membandingkan aku dengan orang lain. Anak lain mungkin menikmati setiap kegiatan yang mereka pilih sehingga bisa lebih berprestasi karena mereka melakukannya dengan hati, sedangkan aku melakukan karena dipaksa. Lelah rasanya.

Aku merasa sudah melakukan sekuat yang aku mampu, karena rasa sayang dan cinta pada Mama dan Papa. Aku menghormati mereka karena mereka orang tuaku, sebisa mungkin tidak membantah apapun. Kutelan semua kepahitan, hingga aku lupa rasanya bahagia.

Tapi, itu dulu, sudah berlalu sejak aku memutuskan melanjutkan perjalanan hidupku sendiri. Hari perayaan kelulusan SMA adalah titik balik dalam hidupku. Tekadku sudah kuat, aku harus memulai hari baru, kisah baru untukku sendiri tanpa campur tangan satu orang pun.

Hari itu aku berlari tanpa arah, tidak sedikit pun melambat, berlari terus tanpa melihat sekitar. Entah mengapa rasanya lega, embusan angin begitu menyegarkan. Matahari seakan menuntunku menuju kebebasan. Tak terasa aku tersenyum. Berlari hingga lelah, kemudian berhenti. Kututup mataku sesaat, entah kenapa seperti ada hentakan pada tubuhku. Kemudian semua menjadi gelap diiringi suara bising.

Kubuka mataku, tapi tidak mengenali apapun. Bukankah tadi aku masih berlari, masih bisa kurasa detak jantung yang berdebar cepat. Sensasi baru yang kurasa. Kini tidak dapat kurasakan apa-apa, hanya kosong dan kembali kututup mataku.

 

Bandung, 20 agustus 2022

Minggu, 07 Oktober 2018

Jalan-Jalan di Pantai Pangandaran Dengan Anak, Bukan Sekedar Jalan Tapi Belajar Juga, Seru!



Jalan-jalan, bukan kata yang asing untuk saya dan keluarga. Sejak kecil, ayah dan ibu sering membawa kami anak-anaknya berjalan-jalan, traveling bahasa kerennya. 

Ternyata, kesukaan ini menurun pada anak saya, Hasya. Jadilah, kita sering traveling berdua. Naik kendaraan umum, mobil pribadi, dan naik motor semua pernah kita lakukan, naik bus umum, bus pariwisata, kereta api juga sudah pernah dicoba, nah, yang belum adalah naik pesawat, kapal laut. Semoga suatu hari bisa kami rasakan.

Oke, untuk kali ini saya mau berbagi keseruan jalan-jalan kami di Pantai Pangandaran. Pantai menjadi salah satu tempat favorit saya dan ternyata Hasya juga suka, perbedaannya adalah saya menyukai suasana pantainya sedangkan Hasya menyukai airnya.

Ada beberapa hal yang menjadikan jalan-jalan dengan anak adalah ajang belajar bukan sekedar jalan. Simak berikut ya :

Baca buku menjadi kegiatan di bus

1. Lebih dekat dengan anak

Perjalanan dari Bandung menuju Pangandaran cukup lama, diperlukan kegiatan yang dapat mengalihkan kebosanan Hasya, salah satu pilihan adalah membaca buku.
Kegiatan lain yang dapat dilakukan saat dalam perjalanan menuju tempat wisata adalah mengobrol. Yups, salah satu saat efektif untuk bisa berbicara dari hati ke hati dengan anak adalah saat dalam perjalanan, maksimalkan waktu ini, ya!


Sabar menanti spot foto

2. Mengajarkan kesabaran

Waktu perjalanan yang berjam-jam, kegiatan terbatas membuat kesabaran anak diuji. Begitu pula ketika sudah tiba di tempat wisata, kesabaran diperlukan untuk check in di hotel, membereskan pakaian, mengantri tiket di tempat wisata.
Hasya belajar bersabar ketika menanti perahu datang di green canyon. Saat akan naik perahu, ternyata semua perahu sedang dipakai semua sehingga kami harus menunggu beberapa menit.
Saat tiba di green canyon juga harus antri, menanti spot bagus untuk foto.
Hasya juga harus bersabar ketika harus berjalan menuju pantai, semangat terus Hasya!

3. Mencoba hal baru

Kepiting goreng tepung, enak!

Banyak hal berbeda yang ditemui oleh Hasya, dari mulai tempat yang berbeda, cuaca berbeda, makanan yang berbeda. Di pantai Pangandaran ini, Hasya baru mencoba kepiting goreng tepung. Rasanya enak, apalagi masih hangat ketika kami membelinya.
Belajar menawar harga saat di toko oleh-oleh, ketika ingin membeli baju untuk dibawa pulang saya mengajarkan Hasya untuk memilih dan memilah, berikan pengetahuan kualitas barang, model, dan juga harga. Tidak selalu harus membeli barang yang anak mau, berikan pengertian apabila barang tersebut tidak terlalu diperlukan.

4. Mengajarkan kemandirian dan solusi

Main pasir menjadi solusi

Pengajaran mencari solusi ketika keadaan tidak sesuai harapan dan keinginan anak. Hasya suka sekali main air ketika di pantai, sensasi bermain ombak dan mencari kerang sangat disenangi. Tapi, ketika air sedang pasang dan dilarang bermain air maka diperlukan solusi lain.
Bermain pasir menjadi jawabannya, kecewa sebentar diawal masalah, cemberut sedikit pasti terlihat. Tapi, ketika sudah ada solusi maka senyuman kembali terlihat.
Kemandirian juga akan terbentuk karena anak berpikir sendiri bagaimana mencari solusi dari masalah yang ada.

Nah, itu sedikit yang dapat saya bagi untuk kali ini. Masih banyak keseruan lain yang belum saya ceritakan. Mencoba mobil boseh di malam hari, berjalan menyusuri sekitar hotel mencari camilan yang sudah menipis di kamar, mencari kuliner unik di malam hari.
Banyak hal yang bisa kita sebagai orang tua ajarkan saat berwisata, rasa repot yang tadinya terbayang ternyata tidak terjadi. Rasa senang dan keseruan yang lebih banyak dirasakan.
Gimana mau mencoba traveling dengan anak, atau sudah sering traveling dengan anak, seru kan?!

Selamat berjalan-jalan dan berbahagia mensyukuri segala kekuasaan Allah dan ciptaanNya.

Senin, 24 September 2018

Senang Traveling, Bareng Anak Aja Banyak Manfaatnya


Traveling, adalah kesukaan banyak orang. Mengunjungi tempat-tempat baru, melihat hal baru, mengenal suasana baru yang berbeda dari lingkungan sehari-hari kita, pastinya menyenangkan banget.
Bagaimana ceritanya kalau travelingnya bareng anak, kira-kira menyenangkan atau malah bikin repot? Tergantung kitanya juga, selama sudah mempersiapkan segala sesuatunya pasti banyakan senangnya daripada repotnya, deh.
Penting dipikirkan adalah anak akan cepat besar, yang tadinya kita orang tua merasa repot bawa anak, tak lama lagi anak yang gak mau diajak oleh kita. Time flies so fast, jadi... Jangan merasa repot traveling dengan anak, deh. Banyak manfaat dari traveling bareng anak, kedekatan dan pengalaman baru akan membekas dalam ingatan anak.
Sebenarnya untuk traveling gak perlu yang jauh atau membutuhkan waktu lama, karena inti dari traveling adalah kedekatan yang ingin dibangun. Manfaat apa saja yang didapat ketika traveling dengan anak, simak sharing berikut :

1. Kedekatan dengan anak

Selama perjalanan dari rumah menuju tempat wisata dapat dipergunakan untuk mengobrol, bercanda, curhat, sehingga anak merasa nyaman dan orang tua jadi lebih mengetahui karakter anak. Anak mungkin tidak akan ingat detail kegiatan, tapi perasaan senang dan bahagia akan terpatri dalam ingatannya. 

2. Anak lebih mandiri dan berani

Saat di tempat wisata akan ada banyak orang disana, ada antrian tiket, ada antrian spot foto, anak akan belajar hal baru bahwa ada beberapa hal yang tidak dapat langsung dimiliki. Selain itu, saat berwisata anak diajarkan untuk lebih berani. Berani mencoba adalah salah satunya, pada saat pergi ke pantai anak akan mencoba bermain dengan air yang ternyata dapat menggeser tubuh mereka lebih jauh ke tengah.

3. Menggali interest anak

Dengan membawanya ke berbagai tempat wisata, akan membuat anak lebih tahu apa yang dia sukai. Misalnya, ternyata dia lebih menyukai alam daripada wahana bermain, atau bahkan anak lebih suka berfoto di setiap tempat yang dikunjungi. 

4. Mengenal perbedaan

Perbedaan bahasa, kebiasaan, makanan di suatu tempat wisata akan membuat anak lebih mengenal perbedaan, akan terbentuk pemikiran bahwa perbedaan itu bukan untuk dibesar-besarkan tapi ada dan biasa. 

5. Lebih menghargai lingkungan

Dengan melihat keindahan alam yang diciptakan Allah, kita dapat memberikan masukan betapa lebih baiknya jika semua ini dipelihara. Peka terhadap lingkungan, yang paling ringan adalah anak sadar bahwa membuang sampah sembarangan akan merusak alam dan menjadikan lingkungan tidak indah lagi.

Itu baru sedikit dari manfaat yang didapat dari traveling dengan anak, jangan berharap kesempurnaan berlibur, karena anak dapat memberikan kejutan kapanpun juga. Kekacauan kecil saat berwisata akan menjadi kenangan lucu dan manis saat mengingatnya di masa depan. Traveling dengan anak adalah hal menyenangkan yang selalu ingin dilakukan kembali, silakan mencoba.

Ada yang merasakan manfaat lebih dari traveling dengan anak, boleh berbagi disini. 

Selasa, 11 September 2018

5 cara agar dekat dengan anak





Anak-anak adalah penghibur, penyenang hati, penerus keturunan, yang terutama adalah investasi dunia akhirat. Anak sholeh adalah tujuan dan keinginan dari setiap orang tua, hanya terkadang orang tua bingung bagaimana mendidiknya. 

Sebenarnya dengan komunikasi dan keterbukaan hal ini dapat mempermudah usaha orang tua.
Bagaimana agar anak terbuka pada orang tua, silakan menyimak 5 hal yang dapat dilakukan orang tua agar dekat dengan anak.

1. Panggil anak dengan panggilan istimewa

Jangan memanggil anak dengan panggilan yang kurang baik ya... Panggilan sayang dan istimewa dapat membuat anak merasa istimewa juga. Panggilan seperti kaka, adik, juga bisa dipakai agar anak lebih merasa berbeda. 

Jangan pelit dalam memberikan pujian juga, ketika anak melakukan kebaikan maka langsung berikan respon positif dan pujian. Reward dan punishment bisa juga dilakukan, tentu sesuai dengan usia anak.

2. Hindari memotong pembicaraan

Biasanya orang tua ada yang tidak sabar ketika anaknya bercerita, sehingga memotong dan langsung menanyakan inti "curhat" anak. Sebaiknya dengarkan saja dulu biarkan anak mencari model curhatnya sendiri.

Kritik pedas juga dihindari ya, karena tidak ada anak yang senang dhakimi, lebih baik orang tua bersikap seperti teman dulu. Kalau terlalu sering dikritik anak malah jadi enggan untuk bercerita lagi karena ketidaknyamanan saat bercerita.

3. Komunikasi 

Komunikasi yang gimana sih? Sebaiknya komunikasi dua arah, jadi tidak melulu orang tua yang memberikan cerita tapi anak juga punya kesempatan yang sama. Hindari juga memberikan saran yang berlebihan ataupun terlalu cepat sehingga anak merasa dihakimi.

Misalnya, anak baru bercerita tadi jatuh didepan rumah belum selesai bercerita orang tua sudah langsung memberi saran harus hati-hati kalau berjalan. Anak pasti langsung terdiam karena belum selesai cerita sudah dinasehati lagi.

4. Hindari menekan anak

Orang tua pasti punya harapan dan keinginan terhadap anak, tapi jika terlalu ditekankan akan membuat anak menjadi menjauh dan tidak terbuka pada orang tua, apalagi jika ditambah dengan pemukulan, cubitan, dan pembullyan.
Orang tua kadang secara tidak sadar sudah membully anak, yang seperti apa itu? Kalimat mengejek atau merendahkan yang tidak disadari oleh orang tua kerap diucapkan meskipun dengan maksud bercanda. Hindari kalimat ini agar anak tetap merasa aman dan nyaman ketika becerita pada orang tua.

5. Lakukan terus dan sabar

Disinilah kuncinya, lakukan langkah diatas dengan terus menerus sehingga anak merasa nyaman berada dekat dengan orang tua, komunikasi bisa dilakukan saat sedang makan, di perjalanan atau bahkan sengaja mencari waktu khusus dengan anak. Lakukan berulang karena hubungan baik tidak terjadi satu hari. 

Sabar adalah kunci lainnya, mungkin saat ini anak belum bisa atau belum terbiasa bercerita kepada orang tua tapi lama kelamaan pasti akan merasa nyaman. Konsisten dan sabar adalah modal orang tua yang ingin anaknya terbuka dan dekat dengannya.

Nah, sudah ada sedikit gambaran biar anak lebih terbuka dan merasa nyaman dengan orang tuanya? 
Silakan dipraktekkan, dilakukan saat anak masih kecil sehingga tercipta kebiasaan baik hingga dewasa, insyaallah.

Jumat, 30 Oktober 2015

Tips dekat dengan anak

Kali ini saya pengen berbagi tentang anak, tulisan ini murni dari pengalaman sendiri jadi kalau ada kekurangan mohon dimaklumi. Sekedar berbagi informasi dan pengalaman saja, supaya apa yang saya dapatkan bisa menjadi masukan buat banyak orang dan terutama saya sendiri.

Anak adalah pelita hati, pencerah kehidupan, penyangga saat tua, pembela di kehidupan selanjutnya.
Anak adalah investasi dunia akhirat, menurut saya loh....
Buat yang sudah menikah pasti ingin memiliki anak, yang sudah punya 1 mau tambah lagi (saya juga maau tapi belum dikasih). Masing-masing pasangan memiliki keinginan mengenai jumlah anak.

Ada yang mau hanya 1, ada yang mau banyak sampai bisa bikin kesebelasan, semua itu adalah pilihan. Karena pada dasarnya anak adalah rejeki sekaligus ujian yang harus kita rawat dan perhatikan seumur hidup.
Membeda-bedakan anak adalah hal yang tidak boleh dilakukan, meskipun sebagian orang tua menyatakan tidak pernah membedakan tapi pada kenyataannya masih ada yang melakukannya.
Padahal kalau dipikir dan diurut kejadiannya, tidak ada anak yang minta dilahirkan kecuali atas keinginan orang tua. Tidak akan serta merta anak ada dalam kandungan ibu.

Bagaimanapun, setelah ada anak pasti kehidupan akan menjadi lebih berwarna dan membahagiakan, benarkan? karena itu yang saya rasakan.
Rasa lelah, rasa cape, bahkan rasa sakit setelah melahirkan terasa hilang begitu saja ketika melihat buah hati yang sehat dan indah.

Menjelang besar, rasa ingin tahu anak menjadi lebih tinggi. Awalnya lucu dan masih dapat diatasi, makin lama semakin tinggi tingkat keingintahuannya dengan keunikan yang dia miliki membuat kita orang tua sedikit kesulitan. Terkadang kita merasa lelah dan capek menghadapi pertanyaan anak dan tingkah lakunya yang seakan ingin memporak-porandakan rumah.
Ternyata, apa yang dilakukannya semata-mata karena dia belum mengetahui apa yang baik dan salah. Sepanjang yang dia tahu adalah dia penasaran dengan bentuknya, warnanya, dan mungkin suaranya. Menurut kita tidak perlu deh memegang gelas, karena dia belum bisa nanti malah jatuh dan pecah. Tapi, kalau anak tidak diajarkan bagaimana memegang gelas dengan benar pasti dia tidak akan tahu. Kalau anak tidak diajarkan bagaimana rasanya jatuh, maka dia tidak akan tahu betapa ada rasa sakit dan rasa malu didalamnya.

Menurut pengalaman saya yang masih dan selalu ingin belajar, anak akan lebih mengerti jika dia sudah mengalami sesuatu sebelumnya. Contoh nih, saya ingin anak saya bisa membantu kegiatan rumah tangga nantinya, jadi...awalnya saya ijinkan dia memegang sapu dan hasilnya? berantakan....qiqiqiqi.....
Beneran berantakan, waktu membersihkan jadi dobel, debu-debu yang harusnya disapu malah lebih berantakan kesana-kemari, dan saya....tertawa berdua dengan dia. Setelah selasai dan dia puas dengan pengalamnnya memegang sapu, saya ambil alih dan mencontohkan padanya cara yang benar.
lancar? tentu belum....tidak ada yang instan untuk kebiasaan. Namanya kebiasaan harus dilakukan berkali-kali.

Banyak hal kita lakukan berdua, banyak cerita kita lalui berdua. dari mulai makan dan jajan di banyak tempat, nonton di bioskop pertama kali nah, ini juga seru banget. Awalnya dia ketakutan karena tiba-tiba gelap, dan suaranya keras banget, kemudian dia terpesona dengan layar lebarnya, dia penasaran bukan dengan filmnya tapi dengan bagaimana bisa ada gambar sebesar itu. Akhirnya dia bertanya terus bukan tentang filmnya tapi tentang ini dan itu didalam bioskop, tahu dong gimana bingungnya saya menjawab. Apalagi waktu dia dengan santainya liat kebelakang dan bilang...."oh, Ibu filmnya dari sana" dan itu kenceng hehehehe....
Apa yang saya lakukan? Kalau teman-teman ngapain tuh? Kalau saya langsung jawab pernyataan dia dengan pelan sambil saya bawa badannya kembali duduk, dan bilang "iya, bener banget filmnya dari sana"
gampang? engga banget, untuk beberapa kali dia bolak-balik lihat ke belakang dan kanan-kiri, dan pertanyaan-pertanyaan yang gak penting menurut saya terus dia tanyakan. Sampai habis filmnya dan habis popcorn juga minum juga roti heheheheh
Terakhir keluar dari bioskop, saya tanya dong filmnya rame gak? dan dia jawab gak tahu....
Iyalah gak akan tahu karena sedikit banget yang dia lihat. Tapi, yang membuat senenng adalah sepanjang jalan pulang dia cerita terus tentang keadaan bioskop itu. Sampai rumah langsung cerita sama Abi nya, bukan tentang filmnya tapi tentang bioskopnya. Pengalaman yang menyenangkan, dan sampai sekarang kita belum nonton lagi.

Sudah ah tentang ceritanya, jadiiii.....tips biar dekat dengan anak versi saya adalah:
Pertama, terima anak apa adanya dan terima semua tingkah polahnya, biarkan dia dengan sedikit bantuan kita menjadi anak yang berkembang sesuai porsinya.

Kedua, kurangi marah dan marah-marah, kurangi bentakan ke anak kalau bisa hilangkan sama sekali bentakan itu. Ganti dengan pemberian pengertian dengan nada suara yang rendah, yakin deh dia tahu kalau kita kesel atau marah. kalau saya suka mengutarakannya langsung dengan bilang "kaka, ibu lagi marah sama kaka yaa"
sambil jelaskan kenapa dan apa penyebabnya.

Ketiga, ajari anak dengan segala hal yang dia belum tahu. Misalnya, tiba-tiba anak lari dari dalam rumah keluar pagar, wuuiihh...bahaya banget kan tuh, gimana kalau ada mobil tiba-tiba lewat. Caranya beritahu pelan-pelan, nada suara yang rendah bahwa hal itu berbahaya.

Keempat, dengarkanlah dia pada saat dia bercerita, pandang matanya dan perlihatkan gesture bahwa kita betul-betul mendengarkan. Apapun ceritanya bagaimanapun cara dia bercerita, tunggu samapi dia selesai bercerita baru kita beri komentar dan masukan. Bukan nasihat, tapi lebih seperti ngobrol dengan teman. Itu yang saya lakukan, dengan harapan anak saya seterusnya mau bercerita tentang apapun. Karena saya gak mau jadi orang terakhir yang tahu jalan cerita hidupnya, perasaannya, dan pilihannya.Saya ingin menjadi orang pertama yang dia cari saat ingin bercerita.

Kelima, terkadang kita perlu menjadi temannya, bukan sebagai orang tua. Act like a child. Ikuti permainan yang dibuatnya, yang terkadang lucu. Seperti sekarang anakku lagi senang membuat tebak-tebakan kata, yang jadi juri dan pembuat pertanyaannya dia dan kita orang tuanya yang jadi peserta. Kelihatan banget dia pengen saya yang menang, jadi meskipun Abinya udah jawab dengan betul pertama kali dan saya telat jawabnya, tetep yang jadi pemenangnya adalah....saya hahahaha
Indahnya bermain dengan anak dengan mengikuti pola pikirnya yang masih sangat polos dan jernih.

Sepertinya baru itu yang bisa saya bagi disini, mungkin kalau ada teman-teman yang mau menambahkan dan berbagi pengalamannya mengasuh dan mendidik anak boleh banget loh, karena setiap anak pasti berbeda, setiap anak adalah istimewa.
Setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing, jika anak kita belum terlihat kelebihannya di bidang akademis, mungkin di keterampilan, jika belum mungkin di sosialnya. Semua pasti ada kelebihannya tinggal kita yang mau menerima dan mau melihatnya atau tidak.
Semua kembali pada kita orang tuanya, apakah melihat anak kita sebagai seseorang yang baik dan istimewa atau sebaliknya.

Pokoknya terima anak kita apa adanya dan jadilah kita pendamping yang bisa dipercaya.

Kamis, 04 Juli 2013

Jaipongan

Sudah beberapa bulan ini Hasyaku latihan jaipongan, bukan sengaja aku daftarin tapi karena sudah kelihatan anaknya suka dan tertarik dengan ini. Jadi, dari mulai umur 2 tahunan dia itu seneng dan anteng banget kalau lihat yang nari. Daripada disuruh nonton kartun dia gak betah, kalau lihat yang nari baik itu tradisional maupun jaipong bisa lama banget diem depan tv. Pernah juga dibawa Abinya lihat langsung tari topeng, eh ikutan goyang dia...

Semangatnya buat latihan bikin aku yang nganternya juga semangat, latihan seminggu dua kali kayanya kurang, saking hobinya kalau lagi diem dirumah sambil nonton tv, sambil makan, samibl ngobrol, sampe di kamar mandi juga gak bisa diem terus jaipongan ajah meskipun ngarang aja gayanya.
Memang dia belum hafal koreografinya full satu lagu, tapi keseriusannya bikin aku bangga banget.
Awalnya malu-malu, harus dianterin dulu, harus dipegangin, gak mau main sama temen-temennya, lama-lama enjoy aja. Keseriusannya pas latihan juga bikin aku seneng en bangga sekaligus, semangat berangkat ke tempat latihan yang lumayan jauh gak bikin dia males. (kadang malah ibunya yang males heuheu...)

Memang gerakannya masih belum sempurna, harusnya kaki kiri eh, ini malah kaki kanan. Harusnya tangan kanan keatas, ini malah tangan kiri. Lucu banget kok lihatnya, dan terharu karena tidak terlihat tuh rasa malu atau menyerah. Kilauan mata penuh semangat bikin aku makin bangga dan semangat juga.
Entah berapa lama waktu yang diperlukan untuk dia menghafal satu koreografi secara lengkap, entah berapa banyak kesalahan yang akan dia lakukan agar gerakannya menjadi sempurna. Berapa lamapun selama dia masih mau dan semangat untuk melakukannya akan aku tunggu dan aku dampingi, karena tidak ada yang lain yang dapat aku lakukan kecuali dukungan yang full.

Love you always and forever my girl, Hasya





Rabu, 01 Mei 2013

Tips mengatasi agresifitas anak

Agresifitas anak...

Siapa yang gak pernah bermasalah dengan anak yang agresif coba? pasti kebanyakan sudah atau bahkan sekarang sedang bermasalah dengan keagresifan anak?
Agresif secara psikologi adalah cenderung (ingin) menyerang kepada sesuatu yang dipandang sebagai hal yang mengecewakan, menghalangi, atau menghambat.(KBBI, 1995)

Kalau diperhatikan, mana ada sih orang tua yang mau anaknya bertindak agresif? tapi, anak-anak meskipun tidak diajarkan pasti melakukan tindakan agresifitas seperti memukul, menjambak, menggigit, bahkan mengumpat. Padahal mainan sudah disortir, tontonan tv maupun dvd sudah disensor, tapi tetap saja tindakan agresifitas berjalan, bahkan mainan dari balok atau terompet bisa jadi pistol.

Pertanyaan selanjutnya adalah normal gak ya? atau gimana?
Ternyata, perilaku tersebut untuk anak-anak masih terbilang normal, tapi bukan berarti bisa didiamkan dan dibiarkan saja. Tentunya kita sebagai orang tua gak mau anak kita terus seperti itu bukan?

Berdasarkan sumber-sumber yang saya baca, cara mengatasi agresifitas anak adalah dengan:
  • Hindari visual mengenai agresifitas, seperti tayangan tv,dvd, games, atau bahkan sikap kita sendiri.
  • Kalau sang anak mulai meniru "jagoannya" dalam memukul, menendang, pada saat itu bisa langsung kita beri arahan bahwa mengapa mereka memukul lawannya, bukankah lebih baik langsung memasukkan "penjahat" ke penjara sehingga kapok dan tidak mengulangi lagi.
  • Dan, jangan pernah memberikan label anak nakal pada anak, sebab label ini akan membuat jarak anak dan orang tua semakin jauh. Jangan lupa juga ucapan orang tua adalah DO'A jadi lebih baik kita sebagai orang tua belajar berkata yang baik untuk anak. :)
  • Bisa juga kita berikan reward/hadiah jika anak dalam beberapa hari tidak berlaku agresif
Kalau yang sudah konkrit dilakukan adalah saya bernegosiasi dengan anak. Yups, anak saya juga suka bersikap agresif seperti memukul, membentak, begitulah anak-anak.
Negosiasi yang saya lakukan adalah saya ajak bicara baik-baik ( meskipun kadang udah mau marah )  lalu menanyakan mengapa dia bertindak seperti itu? dan jawabannya....gak tau. Hal ini berarti satu poin penting lagi, anak-anak melakukan itu bukan karena mereka ingin begitu, mungkin untuk menguji kita orang tuanya apakah bisa di manipulasi dengan cara itu?

Lanjut ya, setelah dia bilang gak tau, baru saya masukkan poin penting... bahwa perilaku seperti itu tidak baik karena akan menyakiti orang lain, dan saya meminta dia untuk tidak megulangi lagi. Bereskah? belum ternyata, karena dia mengulangi lagi beberapa jam kemudian. Tarik nafas dulu saja, terus bikin muka serius deh, sambil bikin perjanjian lagi bahwa kalau diulangi lagi akan ada hukuman dan kalau tidak diulangi akan ada hadiah.

Cukup efektif loh, karena untuk beberapa hari agresifnya berkurang, hooraayy....
Catat : beberapa hari!!!

Jadi, berdasarkan pengalaman mungkin sikap agresif itu akan tetap ada, asal tepat pelampiasannya mudah2an tidak menjadi lebih parah di kemudian hari, jangan sampai deh....
Terus, selama kita memberitahukan tentang baik buruknya suatu perbuatan, dan konsekuensi dari perbuatan itu semoga pada saat besar dia dapat mengetahui apa yang harus dia lakukan dalam menghadapi masalah emosionalnya.

Saya hanya berbagi, semoga tulisan ini bisa menjadi masukan bagi kita semua. Saya juga masih belajar menghadapi tingkah laku anak dan pernak-perniknya yang setiap hari ada- ada saja.
Semangat dalam menjadi orang tua yang baik, tidak sempurna tapi bisa selalu menjadi contoh baik buat anak....

Mei, 2013

Jumat, 24 Agustus 2012

Kucing oh... Kucing

Cerita ini masih tentang Hasya dan celotehannya...

Bulan Ramadhan ini 1433H, siang hari waktu kita lagi bikin kue buat lebaran...

Siang-siang pas abis adzan Dzuhur, tiba-tiba Hasya datang dari ruang depan sambil lari-lari.
"Bu...Ibu...itu tadi kucing yang ibunya ditumpangin sama kucing kuning" sambil serius banget mukanya.
Aku yang lagi bikin kue kaget juga dong
"terus gimana Ka?"
"iya, kasian bu, kucing kuningnya nakal, masa kucing ibunya sampai nangis aja gak bisa gerak"
eh, terus diperagain deh gimana gaya si kucingnya
aduuhh....kucing oh kucing gak kira-kira banget sih...
"aduh, kasian dong ya...sama kaka di usir gak kucing kuningnya?" tanyaku sambil pengen ketawa sih sebenernya.
"udah, tapi gak mau pergi aja bu" mukanya Hasya itu loh yang polos tapi serius dan ceritanya dengan semangat.

Kacau nih kucing, masa siang bolong lagi puasa pula tumpang-tumpangan sih.....
Kucing oh...kucing...

Sabtu, 07 Januari 2012

Tips menangani anak tantrum

Anak tantrum?
Apakah itu? Tantrum merupakan emosi yang meledak-ledak dan tidak teratur.
Biasanya terjadi pada anak umur 1-6 tahun.
Kalau lebih jauhnya mengenai tantrum itu bagaimana, silahkan mencari di ilmu psikologi ya...

Sekarang ini saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman pribadi menghadapi anak yang tantrum, entah ini disebut tantrum atau bukan. Pokoknya saya merasa kejadian ini merupakan pelajaran yang baik banget untuk dibagi, semoga dapat menjadi masukan dan ilmu buat kalian.

Pagi tadi, tiba-tiba anakku memukul Abi tanpa ada sebab. Otomatis langsung ditinggal sama Abi dan diserahkan kepadaku, waktu aku cari ternyata anakku sedang diam disudut. Aku dekati dan bertanya dengan baik "kenapa dede pukul Abi?"
Bukannya menjawab malah nangis dan lumayan keras, waduh...agak panik juga nih harus gimana.
Sesuai teori yang pernah aku dapet, aku jongkok, pegang pundaknya, dan meminta dia melihat mataku. Tapi, bukannya mengikuti dia malah tidak mau dan terus melihat ke arah lain. Oke, aku masih tahan dan masih mencoba membujuk, dan tidak berhasil.
Sempet nyerah dan bilang begini "oke, kalau Aya gak mau bilang ya sudah." sambil aku berdiri dan beranjak pergi.
Ternyata dia malah tambah menangis, makin kenceng. Akhirnya aku angkat dan aku bawa ke hadapan Abinya untuk meminta maaf, masih belum mau juga dan nangisnya makin kenceng aja. Akhirnya kami diamkan, tapi dia malah lari ke kamar sambil terus menangis.
Aku kejar ke kamar, dia sedang menutup kepalanya dengan bantal sambil masih terus menangis.

Dalam hati aku berkata, ya Allah... harus bagaimana ini?
Tarik nafas dalam-dalam, lalu aku buka bantalnya dan aku angkat badannya, lalu aku peluk. Untuk beberapa saat aku biarkan dia menangis.
"udah nangisnya sayang?" tanya aku, dan dia menggelengkan kepalanya.
"yuk, sekarang Aya cerita kenapa pukul Abi terus minta maaf ya sama Abi" Waduh, yang tadinya udah mereda jadi naek lagi tuh nagisnya.
Aku angkat deh jadinya, aku bawa ke Abinya dan dia sambil tetap menangis bilang "maafin dede ya"
Oke...satu masalah selesai, tapi di balik itu aku masih belum puas karena dari cara menangisnya aku tahu masih ada sesuatu di dalam hatinya, mengganjal.

Karena sudah waktunya mandi, maka aku bawa ke kamar mandi karena mandi adalah salah satu kegemaran anakku jadi dia agak sedikit terhibur. Tapi jangan salah mandi juga masih tetap nangis.
Setelah selesai mandi, saat dipakaikan handuk sambil terisak dia bilang begini
"dede teh kesel soalnya Abi pake-pake helm Ibu"
Ya, Allah...ternyata dia kesal, dan gak terima kalau helm aku dipakai Abi. Kami tidak tahu dan tidak paham karena pada saat helm dipake dia tidak bilang apa-apa, hanya membawa helm itu pergi.

Aku peluk dia, dan bilang "maaf Ibu tidak tahu kalau Aya kesel"
"lain kali kalau Aya kesel bilang yah, gak usah pake mukul karena Ibu dan Abi gak ngerti." lanjutku
Diapun mengangguk sambil masih sedikit terisak.

Setelah selesai pakai baju, aku bilang sama Abi, "sekarang bagian Abi yang minta maaf"
Abinya bingung dong.
"Aya tadi kesel karena Abi pake-pake helm Ibu"
Akhirnya Abi peluk Aya dan minta maaf, Aya masih belum 100% menerima, dan gak mau lama-lama dipeluk. Mungkin masih sedikit gengsi juga yah :)

Selesailah masalah, yang ternyata inti dari permasalahannya bukan pukulan Aya, tapi kenapa dia memukul. Dan, yang namanya anak-anak pasti tidak akan langsung bilang apa yang dia rasakan tugas kita orang tua untuk lebih bijak dalam memahami mereka. Sulit memang, seperti yang aku alami ini tidak mudah untuk dijalankan. Tapi, kalau kita mau berusaha dan mau mengalah sediiikiiit aja pasti hasilnya akan lebih baik deh.

Pelajaran demi pelajaran aku dapatkan setiap harinya, terima kasih untuk anakku yang selalu memberikan pelajaran hidup yang tidak mungkin diberikan orang lain. I Love You, dan jawaban dari anakku kalau akau bilang itu adalah You Love Me.

Semoga aku bisa terus belajar menjadi ibu yang baik meskipun tidak sempurna.
Tantrum? bukan halangan untuk kita tetap memahami anak kita, pasti ada sesuatu dibalik tingkahnya itu.
Belajar untuk melihat dari sisi anak juga merupakan hal yang masih harus aku pelajari lebih dalam.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kapan anak siap belajar baca-tulis bag. 1

Artikel ini saya dapatkan di forum para homeschooler, yaitu orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya. Mereka memberikan pelajaran tentang belajar dirumah secara pribadi, yang menurut saya bagus sekali karena dengan begitu orang tua tahu siapa, apa dan bagaimana anak mereka.


MENGAJAR ANAK MEMBACA, MENULIS, DAN MENGEJA
dari sudut ilmu perkembangan anak*
 
dr. Susan R. Johnson, FAAP
diterjemahkan oleh Ellen Kristi
* pernah dimuat secara bersambung dalam e-magazine Sekolah Rumah
 
 
PENGANTAR DARI PENERJEMAH
 
Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba kompetitif ini banyak orangtua yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih unggul dibanding rekan-rekan sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang populer dipakai untuk menilai kehebatan anak adalah kemampuan baca-tulis. Barangkali itu sebabnya kurikulum baca-tulis yang dulu baru diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, sekarang sudah jadi pelajaran wajib di jenjang Taman Kanak-kanak (TK), bahkan Kelompok Bermain (KB).
 
Tetapi, apakah betul asumsi bahwa semakin dini anak belajar baca-tulis semakin cerdas kelak ia di masa depan? Atau sebaliknya, mencekoki anak dengan pelajaran formal terlalu dini justru berbahaya? Berikut ringkasan penuturan dari pakar perkembangan dan perilaku anak, dokter Susan Johnson, yang layak dicermati para orangtua.
 
 
Bagian I - Sistem Proprioseptif
 
Apakah anak Anda tidak bisa duduk tenang, selalu bergeliat-geliut di kursinya, melilitkan kakinya ke kaki bangku, mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan sebagainya? Apakah anak Anda sering terbangun sepanjang tidur malamnya, mencari-cari kontak fisik dengan orangtua sebelum bisa lelap kembali? Jika ya, berarti kemungkinan besar sistem proprioseptifnya belum matang.
Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui keberadaan tubuhnya dalam ruang. Anak dengan sistem proprioseptif yang telah berkembang bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya tanpa harus melihat atau menggerakkan mereka. Kematangan sistem ini bisa diuji antara lain dengan melihat apakah seorang anak bisa berdiri stabil di atas satu kaki dengan mata terpejam.
 
Kematangan sistem proprioseptif sangat erat kaitannya dengan kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian. Selama tujuh tahun awal kehidupannya, otak anak masih harus memetakan lokasi otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak tidak kehilangan jejak keberadaannya. Sayang, di sekolah, anak yang tidak mampu duduk tenang seperti ini bisa langsung dicap sebagai penderita ADD (Attention Deficit Disorder).
 
Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan dari bentuk-bentuk abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja ia telah berlatih berpuluh-puluh kali, tapi tetap saja bingung antara huruf “b” dan “d”, atau tanpa sadar menulis angka 2 atau 3 secara terbalik. Untuk mengetes, coba saja Anda gores dengan jari huruf atau angka itu di punggung anak Anda, apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa, berarti sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.
 
Sistem proprioseptif menjadi kuat melalui gerakan-gerakan jasmani, seperti menyapu, mendorong gerobak mainan, membawakan belanjaan, mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput, atau bergelantungan di tangga lengkung taman bermain. Lewat kegiatan-kegiatan ini, koneksi antara benak dan reseptor di otot, tendon, dan sendi terbentuk. Saat lengan, kaki, telapak tangan, dan telapak kaki maju, mundur, naik, turun, ke kiri dan kanan, anak-anak akan mulai memperoleh kesadaran tentang ruang di sekeliling mereka. Dampaknya, saat nanti mereka memandang bentuk-bentuk huruf dan angka, mata mereka mampu mengikuti dan melacak garis-garis dan lengkung-lengkung itu. Memori dari gerakan-gerakan ini akan tercetak di benak mereka, lantas terbentuklah gambaran atau imaji mental atas angka-angka dan huruf-huruf ini. Sebelum mulai menulis, orientasi yang benar ini akan muncul sebagai panduan. Mereka tak lagi bingung antara huruf “b” dan “d” atau arah angka 2 dan 3.
 
 

Minggu, 09 Oktober 2011

Televisi dan Anak

Banyaknya program televisi, memungkinkan kita untuk memilih program mana yang dapat dikonsumsi oleh anak. Namun, sebagai orang tua tentu saja harus tetap waspada agar kita tidak "kecolongan", karena adanya ancaman kekerasan dan pornografi yang mengintai anak kita saat menonton televisi.
Oleh karena itu, pendampingan anak saat menonton adalah hal mutlak yang perlu dilakukan. 
Selain itu, ada hal mendasar yang harus juga dilakukan oleh orang tua, menurut Psikolog anak Vera Itabiliana beberapa rumus yang dapat dilakukan orang tua agar televisi dapat menjadi sahabat anak adalah sebagai berikut:


1. Penempatan televisi, sebaiknya televisi ditempatkan di ruang tengah bukan di kamar anak, agar orang tua mudah memantau tontonan anak.


2. Batasi waktunya, hal ini dimaksudkan agar anak tidak terganggu konsentrasi belajarnya.


3. Dampingi anak, sesibuk apapun ada baiknya mendampingi anak agar jika mereka bertanya tentang program tersebut dapat langsung dijawab.


4. Seleksi program acara, penyeleksian ini sangat penting karena mempengaruhi tumbuh kembang dan perilaku anak.


5. Berikan alternatif kegiatan lain, karena bukan tidak mungkin anak merasa bosan dengan tontonan di televisi, bermain adalah alternatif lainnya.


6. Berikan contoh, misalnya apabila pulang bekerja anda langsung menonton televisi, karena anak akan memperhatikan dan bukan tidak mungkin anak menirunya.


sumber: okezone.com