Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2015

Tips dekat dengan anak

Kali ini saya pengen berbagi tentang anak, tulisan ini murni dari pengalaman sendiri jadi kalau ada kekurangan mohon dimaklumi. Sekedar berbagi informasi dan pengalaman saja, supaya apa yang saya dapatkan bisa menjadi masukan buat banyak orang dan terutama saya sendiri.

Anak adalah pelita hati, pencerah kehidupan, penyangga saat tua, pembela di kehidupan selanjutnya.
Anak adalah investasi dunia akhirat, menurut saya loh....
Buat yang sudah menikah pasti ingin memiliki anak, yang sudah punya 1 mau tambah lagi (saya juga maau tapi belum dikasih). Masing-masing pasangan memiliki keinginan mengenai jumlah anak.

Ada yang mau hanya 1, ada yang mau banyak sampai bisa bikin kesebelasan, semua itu adalah pilihan. Karena pada dasarnya anak adalah rejeki sekaligus ujian yang harus kita rawat dan perhatikan seumur hidup.
Membeda-bedakan anak adalah hal yang tidak boleh dilakukan, meskipun sebagian orang tua menyatakan tidak pernah membedakan tapi pada kenyataannya masih ada yang melakukannya.
Padahal kalau dipikir dan diurut kejadiannya, tidak ada anak yang minta dilahirkan kecuali atas keinginan orang tua. Tidak akan serta merta anak ada dalam kandungan ibu.

Bagaimanapun, setelah ada anak pasti kehidupan akan menjadi lebih berwarna dan membahagiakan, benarkan? karena itu yang saya rasakan.
Rasa lelah, rasa cape, bahkan rasa sakit setelah melahirkan terasa hilang begitu saja ketika melihat buah hati yang sehat dan indah.

Menjelang besar, rasa ingin tahu anak menjadi lebih tinggi. Awalnya lucu dan masih dapat diatasi, makin lama semakin tinggi tingkat keingintahuannya dengan keunikan yang dia miliki membuat kita orang tua sedikit kesulitan. Terkadang kita merasa lelah dan capek menghadapi pertanyaan anak dan tingkah lakunya yang seakan ingin memporak-porandakan rumah.
Ternyata, apa yang dilakukannya semata-mata karena dia belum mengetahui apa yang baik dan salah. Sepanjang yang dia tahu adalah dia penasaran dengan bentuknya, warnanya, dan mungkin suaranya. Menurut kita tidak perlu deh memegang gelas, karena dia belum bisa nanti malah jatuh dan pecah. Tapi, kalau anak tidak diajarkan bagaimana memegang gelas dengan benar pasti dia tidak akan tahu. Kalau anak tidak diajarkan bagaimana rasanya jatuh, maka dia tidak akan tahu betapa ada rasa sakit dan rasa malu didalamnya.

Menurut pengalaman saya yang masih dan selalu ingin belajar, anak akan lebih mengerti jika dia sudah mengalami sesuatu sebelumnya. Contoh nih, saya ingin anak saya bisa membantu kegiatan rumah tangga nantinya, jadi...awalnya saya ijinkan dia memegang sapu dan hasilnya? berantakan....qiqiqiqi.....
Beneran berantakan, waktu membersihkan jadi dobel, debu-debu yang harusnya disapu malah lebih berantakan kesana-kemari, dan saya....tertawa berdua dengan dia. Setelah selasai dan dia puas dengan pengalamnnya memegang sapu, saya ambil alih dan mencontohkan padanya cara yang benar.
lancar? tentu belum....tidak ada yang instan untuk kebiasaan. Namanya kebiasaan harus dilakukan berkali-kali.

Banyak hal kita lakukan berdua, banyak cerita kita lalui berdua. dari mulai makan dan jajan di banyak tempat, nonton di bioskop pertama kali nah, ini juga seru banget. Awalnya dia ketakutan karena tiba-tiba gelap, dan suaranya keras banget, kemudian dia terpesona dengan layar lebarnya, dia penasaran bukan dengan filmnya tapi dengan bagaimana bisa ada gambar sebesar itu. Akhirnya dia bertanya terus bukan tentang filmnya tapi tentang ini dan itu didalam bioskop, tahu dong gimana bingungnya saya menjawab. Apalagi waktu dia dengan santainya liat kebelakang dan bilang...."oh, Ibu filmnya dari sana" dan itu kenceng hehehehe....
Apa yang saya lakukan? Kalau teman-teman ngapain tuh? Kalau saya langsung jawab pernyataan dia dengan pelan sambil saya bawa badannya kembali duduk, dan bilang "iya, bener banget filmnya dari sana"
gampang? engga banget, untuk beberapa kali dia bolak-balik lihat ke belakang dan kanan-kiri, dan pertanyaan-pertanyaan yang gak penting menurut saya terus dia tanyakan. Sampai habis filmnya dan habis popcorn juga minum juga roti heheheheh
Terakhir keluar dari bioskop, saya tanya dong filmnya rame gak? dan dia jawab gak tahu....
Iyalah gak akan tahu karena sedikit banget yang dia lihat. Tapi, yang membuat senenng adalah sepanjang jalan pulang dia cerita terus tentang keadaan bioskop itu. Sampai rumah langsung cerita sama Abi nya, bukan tentang filmnya tapi tentang bioskopnya. Pengalaman yang menyenangkan, dan sampai sekarang kita belum nonton lagi.

Sudah ah tentang ceritanya, jadiiii.....tips biar dekat dengan anak versi saya adalah:
Pertama, terima anak apa adanya dan terima semua tingkah polahnya, biarkan dia dengan sedikit bantuan kita menjadi anak yang berkembang sesuai porsinya.

Kedua, kurangi marah dan marah-marah, kurangi bentakan ke anak kalau bisa hilangkan sama sekali bentakan itu. Ganti dengan pemberian pengertian dengan nada suara yang rendah, yakin deh dia tahu kalau kita kesel atau marah. kalau saya suka mengutarakannya langsung dengan bilang "kaka, ibu lagi marah sama kaka yaa"
sambil jelaskan kenapa dan apa penyebabnya.

Ketiga, ajari anak dengan segala hal yang dia belum tahu. Misalnya, tiba-tiba anak lari dari dalam rumah keluar pagar, wuuiihh...bahaya banget kan tuh, gimana kalau ada mobil tiba-tiba lewat. Caranya beritahu pelan-pelan, nada suara yang rendah bahwa hal itu berbahaya.

Keempat, dengarkanlah dia pada saat dia bercerita, pandang matanya dan perlihatkan gesture bahwa kita betul-betul mendengarkan. Apapun ceritanya bagaimanapun cara dia bercerita, tunggu samapi dia selesai bercerita baru kita beri komentar dan masukan. Bukan nasihat, tapi lebih seperti ngobrol dengan teman. Itu yang saya lakukan, dengan harapan anak saya seterusnya mau bercerita tentang apapun. Karena saya gak mau jadi orang terakhir yang tahu jalan cerita hidupnya, perasaannya, dan pilihannya.Saya ingin menjadi orang pertama yang dia cari saat ingin bercerita.

Kelima, terkadang kita perlu menjadi temannya, bukan sebagai orang tua. Act like a child. Ikuti permainan yang dibuatnya, yang terkadang lucu. Seperti sekarang anakku lagi senang membuat tebak-tebakan kata, yang jadi juri dan pembuat pertanyaannya dia dan kita orang tuanya yang jadi peserta. Kelihatan banget dia pengen saya yang menang, jadi meskipun Abinya udah jawab dengan betul pertama kali dan saya telat jawabnya, tetep yang jadi pemenangnya adalah....saya hahahaha
Indahnya bermain dengan anak dengan mengikuti pola pikirnya yang masih sangat polos dan jernih.

Sepertinya baru itu yang bisa saya bagi disini, mungkin kalau ada teman-teman yang mau menambahkan dan berbagi pengalamannya mengasuh dan mendidik anak boleh banget loh, karena setiap anak pasti berbeda, setiap anak adalah istimewa.
Setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing, jika anak kita belum terlihat kelebihannya di bidang akademis, mungkin di keterampilan, jika belum mungkin di sosialnya. Semua pasti ada kelebihannya tinggal kita yang mau menerima dan mau melihatnya atau tidak.
Semua kembali pada kita orang tuanya, apakah melihat anak kita sebagai seseorang yang baik dan istimewa atau sebaliknya.

Pokoknya terima anak kita apa adanya dan jadilah kita pendamping yang bisa dipercaya.

Rabu, 26 Oktober 2011

Kapan anak siap belajar baca-tulis bag. 2

Selanjutnya mengenai kesiapan anak membaca, mengeja, menulis


Bagian II – Membaca, Mengeja, dan Menulis

Belakangan ini, kurikulum dalam Kelompok Bermain (playgroup) dan Taman Kanak-kanak tampak semakin mendesak agar anak balita belajar baca-tulis-eja. Tetapi betulkah waktunya sudah tepat? Sudah siapkah mereka? Mari kita kaji dari aspek perkembangan otak anak.
Jika anak belajar membaca pada usia 4-7 tahun, maka bagian otak yang akan dipakai adalah belahan otak kanan. Belahan ini membuat anak mengenali apa pun sebagai gambar, termasuk huruf dan angka. Saat diperkenalkan pada sebuah kata, anak akan mengingat huruf pertama dan huruf terakhir, serta panjang dan bentuknya secara umum – dan tergambarlah kata itu di benaknya.
Kelemahannya, kalau cara membaca dengan otak kanan itu terpatri di pola pikir anak, di kemudian hari ia akan mengalami berbagai problem belajar. Sebab, anak jadi terbiasa melihat kata sebagai gambar. Ia melihat huruf pertama, huruf terakhir, panjang dan bentuknya lantas menebak “kata apa itu?”. Kata BURUK bisa dibaca BUSUK atau BULUK. Jika Anda pampangkan kata ARJOLI ia akan membacanya sebagai ARLOJI tanpa sadar bahwa ia telah salah mengeja. Kata-kata seperti SIAP dan SUAP atau SURAT, SARAT, dan SIRAT akan terlihat sama saja.
Membaca via otak kanan oke-oke saja untuk kata-kata pendek, tapi akan sangat melelahkan untuk kata yang panjang, apalagi kalimat. Anak-anak yang membaca dengan belahan otak kanan pasti bakal kewalahan setelah membaca beberapa alinea. Lagipula, karena sibuk membunyikan kata, mereka tak bisa menangkap makna utuh dari suatu bacaan. Tidak ada imaji mental yang timbul sementara mereka membaca buku cerita. Ini akan membatasi pemahaman menyeluruh mereka. Akibatnya, saat harus meringkas atau melaporkan isi bacaan, mereka cenderung mencontek atau menyalin teks apa adanya.
Karena pusat membaca di otak kanan melihat huruf dan angka sebagai gambar, cara belajar membaca terbaik untuk usia 4-7 tahun adalah menghubungkan huruf atau angka dengan gambar-gambar. Misalnya, huruf “M” bisa diwakilkan oleh gambar dua puncak gunung dengan lembah di tengahnya. Contoh lain termasuk menggambar  seekor katak untuk huruf “K”, seekor badak untuk huruf “B” atau wafer untuk huruf “W”.
Kita juga belajar mengenalkan bunyi huruf dengan mengaitkannya ke benda nyata, misalnya bahwa bunyi “M” adalah bunyi pertama dari kata “Mama”. Tapi cara ini tidak bisa dipakai untuk membuat anak hafal bentuk hurufnya. Dari sudut ilmu perkembangan, sangat tidak masuk akal mengharap anak hafal bagaimana menulis huruf B dengan bilang, “Babi, Nak, babi!” karena huruf B sama sekali tidak mirip dengan babi, atau huruf A dengan apel, dsb.
Tetapi untuk belajar membaca secara formal, masih perlu dipenuhi dua faktor lain. Pertama, berkembangnya pusat baca di belahan otak kiri. Ini rata-rata terjadi usia 7-9 tahun (pada anak perempuan bisa lebih cepat, sementara pada anak lelaki bisa lebih lambat, sekitar umur 10-12 tahun). Pusat membaca di otak kiri inilah yang menyanggupkan anak-anak untuk belajar membaca secara fonetis (dari huruf ke huruf). Sekarang mereka dapat mengingat lebih akurat bagaimana mengeja kata-kata.
Belahan otak kanan menyanggupkan anak membaca lewat ingatan visual, sementara belahan otak kiri dengan metode fonik (membunyikan kata dari huruf ke huruf). Membaca dengan ingatan visual sangat efisien untuk kata-kata pendek, sementara metode fonik efisien untuk kata-kata panjang. Jika kedua belahan otak itu telah berkembang dan saling terhubung, anak bisa mengakses keduanya secara bersamaan. Akibatnya, anak akan mampu membaca kata pendek maupun panjang dengan efisien.
Bagaimana kita tahu belahan otak kanan dan kiri telah saling terhubung (integrasi bilateral)? Cobalah tes kemampuan mereka melakukan cross-lateral skip: apakah mereka bisa mengayunkan kaki kiri dengan tangan kanan atau kaki kanan dengan tangan kiri berbarengan tanpa berpikir atau berkonsentrasi. Sebab gerakan-gerakan tubuh bagian kanan terhubung dengan belahan otak kiri, sementara gerakan-gerakan tubuh bagian kiri terhubung dengan belahan otak kanan. Kalau anak dapat menggerakan tangan dan kaki yang berseberangan bersama-sama, berarti belahan otak kanan dan kiri sedang “ngobrol” atau terhubung satu sama lain. Kalau anak hanya bisa mengayunkan tangan dan kaki yang sama (homolateral skip), berarti mereka belum siap membaca, karena mereka belum bisa mengakses kedua belah otak secara simultan.
Kemampuan mengakses secara simultan pusat baca di belahan otak kiri dan kanan memudahkan proses membaca anak. Sembari membaca, ia juga bisa menciptakan imaji visual dalam benaknya tentang isi bacaan sebab ia tidak terpaku pada kegiatan mengeja. Alhasil, saat diajak berdiskusi atau disuruh menceritakan kembali, mereka mampu menguatakannya dengan kata-kata mereka sendiri. Mengapa? Karena imaji itu hidup dalam otak mereka.  Mereka jadi lebih mudah memahami makna di balik cerita dan buku yang mereka baca. Belajar mengeja pun akan jadi lebih mudah.
Saya kuatir melihat makin banyaknya siswa kelas 4, 5, 6 SD bahkan SMP di sekolah negeri maupun swasta yang masih kesulitan mengeja atau masih membaca secara visual. Pernah saya memberi tes. Saya minta sejumlah anak membaca kalimat ini: Enam boach pergi brllibur berasma naik preahu mnemacing ikon. Ternyata banyak yang tidak sadar bahwa kalimat itu mengandung salah eja. Saat saya suruh mereka membaca kertas lain berisi kalimat yang sama namun dieja dengan benar, mereka bilang kalimat kedua ini sama saja dengan yang pertama. Paling banter mereka hanya menyadari 1-2 kata saja yang berbeda ejaan.
Anak-anak ini telah didesak untuk membaca terlalu cepat, saat hanya otak kanan mereka yang sudah siap. Mereka menutupinya dengan belajar membaca segala sesuatu hanya dengan ingatan visual. Saat pusat baca di belahan otak kiri mereka akhirnya siap, mereka masih terbiasa membaca dengan otak kanan.  Baru ketika kata yang mereka baca terlalu sulit, mereka memakai pusat baca otak kiri. Tetapi mereka belum bisa memakai pusat baca di otak kiri dan otak kanan bersama-sama.
Banyak dari anak-anak ini masih belum memiliki integrasi bilateral dalam gerakan fisik mereka seperti juga dalam keterampilan baca mereka. Sebagian anak membaca dengan lambat dan susah payah. Sebagian anak lain punya ingatan visual begitu kuat sehingga mereka bisa membaca cepat tetapi tingkat pehamaman dan ejaan mereka payah. Kedua kelompok ini sama-sama tidak bisa membayangkan dengan mudah adegan-adegan dari teks yang mereka baca atau mengingat bagaimana cara mengeja tiap kata satu per satu.
Anak-anak tingkat akhir sekolah dasar yang masih kesulitan membaca perlu diberikan terapi sesuai kasusnya. Ada banyak opsi terapi yang bisa dipilih. Oh ya, mereka juga perlu sering dilatih melakukan gerakan silang untuk menguatkan integrasi otak kiri dan otak kanan, misalnya lewat permainan tenis, berenang dengan berbagai gaya, atau mendaki gunung. Sebagai catatan, semua terapi ini jangan dijalankan dalam suasana persaingan, sebab stres mengganggu pembentukan jalur syaraf. Setelah itu, mereka harus dilatih ulang membaca fonik dengan otak kiri.
Sekolah dan orangtua berperan besar dalam mendukung proses belajar anak lewat penyediaan makanan yang bergizi, buah dan sayuran segar, dengan menghindari minyak yang setengah terhidrogenisasi dan lemak trans. Tidur yang cukup – yang berarti bertambahnya persentase rapid eye movement (REM) – akan membantu anak mencerna pelajaran yang ia terima di hari sebelumnya. Yang tak kalah pentingnya adalah cinta kasih tanpa syarat. Anak yang merasakan cinta kasih ini akan bertumbuh kembang lebih optimal, termasuk kemampuan akademisnya.
Pembatasan ketat terhadap kegiatan menonton (televisi, video, games komputer), bahkan meniadakannya sama sekali di hari-hari sekolah, akan membebaskan pikiran anak untuk berpikir. Jika tidak, tontonan elektronik itu akan membombardir otak anak dengan rentetan gambar yang menginterupsi proses berpikir. Irama yang teratur dan rutin dalam pola makan dan tidur serta kegiatan sehari-hari akan mendukung sistem syaraf yang rileks dan anak pun lebih siap belajar.
Sekali lagi, anak tidak dapat belajar dengan baik, jaringan syaraf pun tak berkembang sempurna, jika anak stres. Memaksa mereka menulis, membaca, dan mengeja, atau memberi mereka tes-tes “standar” terlalu dini (tidak sesuai dengan tahap perkembangannya) akan menciptakan perilaku bermasalah dan problem-problem belajar, terutama pada anak laki-laki. Mereka bisa benci sekolah, juga benci belajar.
Tahun pertama sekolah dasar adalah waktu untuk memperkenalkan berbagai gambar bentuk. Anak-anak belajar dan membuat huruf-huruf yang dijadikan gambar. Mereka berlatih tulis bersambung (kursif), setiap huruf ditulis berulang kali (misalnya, bentuk kursif “c” disambung seperti ombak lautan).
Satu atau dua tahun kemudian, saat anak sudah mahir berdiri di satu kaki dengan mata tertutup, menebak huruf atau angka yang ditulis di punggungnya, lompat tali maju mundur, dan melakukan gerakan silang – artinya, otak kanan dan otak kiri telah sama-sama berkembang dan saling terhubung – pelajaran formal untuk membaca, mengeja, dan menulis sudah bisa dimulai.
Sudah waktunya untuk menyingkirkan meja-meja dari kelompok bermain dan taman kanak-kanak. KB/TK perlu mengisi kurikulumnya dengan permainan yang melatih integrasi syaraf, keterampilan motorik halus, kemampuan motorik visual, keseimbangan, kekuatan otot, proprioseptif, selain perkembangan sosial dan emosional anak. Kegiatan seperti drama, memanjat, berlari, melompat, engklek (loncat dengan satu kaki), lompat tali, jalan keseimbangan, menyanyi, kejar-tangkap, melukis, mewarnai, bermain tepuk tangan irama, merangkai manik-manik, merajut, serta keterampilan hidup sehari-hari akan menyiapkan pikiran mereka untuk belajar. Anak-anak butuh semua gerakan yang sehat, harmonis, ritmis, dan tak kompetitif ini untuk mengembangkan otak mereka. Sebab gerakan tubuh itulah, bersama-sama dengan kecintaan mereka pada proses belajar, yang menciptakan jalur-jalur syaraf di otak mereka, agar mereka bisa membaca, menulis, mengeja, berhitung matematis, dan berpikir kreatif. (habis)

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kapan anak siap belajar baca-tulis bag. 1

Artikel ini saya dapatkan di forum para homeschooler, yaitu orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya. Mereka memberikan pelajaran tentang belajar dirumah secara pribadi, yang menurut saya bagus sekali karena dengan begitu orang tua tahu siapa, apa dan bagaimana anak mereka.


MENGAJAR ANAK MEMBACA, MENULIS, DAN MENGEJA
dari sudut ilmu perkembangan anak*
 
dr. Susan R. Johnson, FAAP
diterjemahkan oleh Ellen Kristi
* pernah dimuat secara bersambung dalam e-magazine Sekolah Rumah
 
 
PENGANTAR DARI PENERJEMAH
 
Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba kompetitif ini banyak orangtua yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih unggul dibanding rekan-rekan sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang populer dipakai untuk menilai kehebatan anak adalah kemampuan baca-tulis. Barangkali itu sebabnya kurikulum baca-tulis yang dulu baru diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, sekarang sudah jadi pelajaran wajib di jenjang Taman Kanak-kanak (TK), bahkan Kelompok Bermain (KB).
 
Tetapi, apakah betul asumsi bahwa semakin dini anak belajar baca-tulis semakin cerdas kelak ia di masa depan? Atau sebaliknya, mencekoki anak dengan pelajaran formal terlalu dini justru berbahaya? Berikut ringkasan penuturan dari pakar perkembangan dan perilaku anak, dokter Susan Johnson, yang layak dicermati para orangtua.
 
 
Bagian I - Sistem Proprioseptif
 
Apakah anak Anda tidak bisa duduk tenang, selalu bergeliat-geliut di kursinya, melilitkan kakinya ke kaki bangku, mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan sebagainya? Apakah anak Anda sering terbangun sepanjang tidur malamnya, mencari-cari kontak fisik dengan orangtua sebelum bisa lelap kembali? Jika ya, berarti kemungkinan besar sistem proprioseptifnya belum matang.
Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui keberadaan tubuhnya dalam ruang. Anak dengan sistem proprioseptif yang telah berkembang bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya tanpa harus melihat atau menggerakkan mereka. Kematangan sistem ini bisa diuji antara lain dengan melihat apakah seorang anak bisa berdiri stabil di atas satu kaki dengan mata terpejam.
 
Kematangan sistem proprioseptif sangat erat kaitannya dengan kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian. Selama tujuh tahun awal kehidupannya, otak anak masih harus memetakan lokasi otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak tidak kehilangan jejak keberadaannya. Sayang, di sekolah, anak yang tidak mampu duduk tenang seperti ini bisa langsung dicap sebagai penderita ADD (Attention Deficit Disorder).
 
Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan dari bentuk-bentuk abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja ia telah berlatih berpuluh-puluh kali, tapi tetap saja bingung antara huruf “b” dan “d”, atau tanpa sadar menulis angka 2 atau 3 secara terbalik. Untuk mengetes, coba saja Anda gores dengan jari huruf atau angka itu di punggung anak Anda, apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa, berarti sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.
 
Sistem proprioseptif menjadi kuat melalui gerakan-gerakan jasmani, seperti menyapu, mendorong gerobak mainan, membawakan belanjaan, mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput, atau bergelantungan di tangga lengkung taman bermain. Lewat kegiatan-kegiatan ini, koneksi antara benak dan reseptor di otot, tendon, dan sendi terbentuk. Saat lengan, kaki, telapak tangan, dan telapak kaki maju, mundur, naik, turun, ke kiri dan kanan, anak-anak akan mulai memperoleh kesadaran tentang ruang di sekeliling mereka. Dampaknya, saat nanti mereka memandang bentuk-bentuk huruf dan angka, mata mereka mampu mengikuti dan melacak garis-garis dan lengkung-lengkung itu. Memori dari gerakan-gerakan ini akan tercetak di benak mereka, lantas terbentuklah gambaran atau imaji mental atas angka-angka dan huruf-huruf ini. Sebelum mulai menulis, orientasi yang benar ini akan muncul sebagai panduan. Mereka tak lagi bingung antara huruf “b” dan “d” atau arah angka 2 dan 3.