Kali ini saya pengen berbagi tentang anak, tulisan ini murni dari pengalaman sendiri jadi kalau ada kekurangan mohon dimaklumi. Sekedar berbagi informasi dan pengalaman saja, supaya apa yang saya dapatkan bisa menjadi masukan buat banyak orang dan terutama saya sendiri.
Anak adalah pelita hati, pencerah kehidupan, penyangga saat tua, pembela di kehidupan selanjutnya.
Anak adalah investasi dunia akhirat, menurut saya loh....
Buat yang sudah menikah pasti ingin memiliki anak, yang sudah punya 1 mau tambah lagi (saya juga maau tapi belum dikasih). Masing-masing pasangan memiliki keinginan mengenai jumlah anak.
Ada yang mau hanya 1, ada yang mau banyak sampai bisa bikin kesebelasan, semua itu adalah pilihan. Karena pada dasarnya anak adalah rejeki sekaligus ujian yang harus kita rawat dan perhatikan seumur hidup.
Membeda-bedakan anak adalah hal yang tidak boleh dilakukan, meskipun sebagian orang tua menyatakan tidak pernah membedakan tapi pada kenyataannya masih ada yang melakukannya.
Padahal kalau dipikir dan diurut kejadiannya, tidak ada anak yang minta dilahirkan kecuali atas keinginan orang tua. Tidak akan serta merta anak ada dalam kandungan ibu.
Bagaimanapun, setelah ada anak pasti kehidupan akan menjadi lebih berwarna dan membahagiakan, benarkan? karena itu yang saya rasakan.
Rasa lelah, rasa cape, bahkan rasa sakit setelah melahirkan terasa hilang begitu saja ketika melihat buah hati yang sehat dan indah.
Menjelang besar, rasa ingin tahu anak menjadi lebih tinggi. Awalnya lucu dan masih dapat diatasi, makin lama semakin tinggi tingkat keingintahuannya dengan keunikan yang dia miliki membuat kita orang tua sedikit kesulitan. Terkadang kita merasa lelah dan capek menghadapi pertanyaan anak dan tingkah lakunya yang seakan ingin memporak-porandakan rumah.
Ternyata, apa yang dilakukannya semata-mata karena dia belum mengetahui apa yang baik dan salah. Sepanjang yang dia tahu adalah dia penasaran dengan bentuknya, warnanya, dan mungkin suaranya. Menurut kita tidak perlu deh memegang gelas, karena dia belum bisa nanti malah jatuh dan pecah. Tapi, kalau anak tidak diajarkan bagaimana memegang gelas dengan benar pasti dia tidak akan tahu. Kalau anak tidak diajarkan bagaimana rasanya jatuh, maka dia tidak akan tahu betapa ada rasa sakit dan rasa malu didalamnya.
Menurut pengalaman saya yang masih dan selalu ingin belajar, anak akan lebih mengerti jika dia sudah mengalami sesuatu sebelumnya. Contoh nih, saya ingin anak saya bisa membantu kegiatan rumah tangga nantinya, jadi...awalnya saya ijinkan dia memegang sapu dan hasilnya? berantakan....qiqiqiqi.....
Beneran berantakan, waktu membersihkan jadi dobel, debu-debu yang harusnya disapu malah lebih berantakan kesana-kemari, dan saya....tertawa berdua dengan dia. Setelah selasai dan dia puas dengan pengalamnnya memegang sapu, saya ambil alih dan mencontohkan padanya cara yang benar.
lancar? tentu belum....tidak ada yang instan untuk kebiasaan. Namanya kebiasaan harus dilakukan berkali-kali.
Banyak hal kita lakukan berdua, banyak cerita kita lalui berdua. dari mulai makan dan jajan di banyak tempat, nonton di bioskop pertama kali nah, ini juga seru banget. Awalnya dia ketakutan karena tiba-tiba gelap, dan suaranya keras banget, kemudian dia terpesona dengan layar lebarnya, dia penasaran bukan dengan filmnya tapi dengan bagaimana bisa ada gambar sebesar itu. Akhirnya dia bertanya terus bukan tentang filmnya tapi tentang ini dan itu didalam bioskop, tahu dong gimana bingungnya saya menjawab. Apalagi waktu dia dengan santainya liat kebelakang dan bilang...."oh, Ibu filmnya dari sana" dan itu kenceng hehehehe....
Apa yang saya lakukan? Kalau teman-teman ngapain tuh? Kalau saya langsung jawab pernyataan dia dengan pelan sambil saya bawa badannya kembali duduk, dan bilang "iya, bener banget filmnya dari sana"
gampang? engga banget, untuk beberapa kali dia bolak-balik lihat ke belakang dan kanan-kiri, dan pertanyaan-pertanyaan yang gak penting menurut saya terus dia tanyakan. Sampai habis filmnya dan habis popcorn juga minum juga roti heheheheh
Terakhir keluar dari bioskop, saya tanya dong filmnya rame gak? dan dia jawab gak tahu....
Iyalah gak akan tahu karena sedikit banget yang dia lihat. Tapi, yang membuat senenng adalah sepanjang jalan pulang dia cerita terus tentang keadaan bioskop itu. Sampai rumah langsung cerita sama Abi nya, bukan tentang filmnya tapi tentang bioskopnya. Pengalaman yang menyenangkan, dan sampai sekarang kita belum nonton lagi.
Sudah ah tentang ceritanya, jadiiii.....tips biar dekat dengan anak versi saya adalah:
Pertama, terima anak apa adanya dan terima semua tingkah polahnya, biarkan dia dengan sedikit bantuan kita menjadi anak yang berkembang sesuai porsinya.
Kedua, kurangi marah dan marah-marah, kurangi bentakan ke anak kalau bisa hilangkan sama sekali bentakan itu. Ganti dengan pemberian pengertian dengan nada suara yang rendah, yakin deh dia tahu kalau kita kesel atau marah. kalau saya suka mengutarakannya langsung dengan bilang "kaka, ibu lagi marah sama kaka yaa"
sambil jelaskan kenapa dan apa penyebabnya.
Ketiga, ajari anak dengan segala hal yang dia belum tahu. Misalnya, tiba-tiba anak lari dari dalam rumah keluar pagar, wuuiihh...bahaya banget kan tuh, gimana kalau ada mobil tiba-tiba lewat. Caranya beritahu pelan-pelan, nada suara yang rendah bahwa hal itu berbahaya.
Keempat, dengarkanlah dia pada saat dia bercerita, pandang matanya dan perlihatkan gesture bahwa kita betul-betul mendengarkan. Apapun ceritanya bagaimanapun cara dia bercerita, tunggu samapi dia selesai bercerita baru kita beri komentar dan masukan. Bukan nasihat, tapi lebih seperti ngobrol dengan teman. Itu yang saya lakukan, dengan harapan anak saya seterusnya mau bercerita tentang apapun. Karena saya gak mau jadi orang terakhir yang tahu jalan cerita hidupnya, perasaannya, dan pilihannya.Saya ingin menjadi orang pertama yang dia cari saat ingin bercerita.
Kelima, terkadang kita perlu menjadi temannya, bukan sebagai orang tua. Act like a child. Ikuti permainan yang dibuatnya, yang terkadang lucu. Seperti sekarang anakku lagi senang membuat tebak-tebakan kata, yang jadi juri dan pembuat pertanyaannya dia dan kita orang tuanya yang jadi peserta. Kelihatan banget dia pengen saya yang menang, jadi meskipun Abinya udah jawab dengan betul pertama kali dan saya telat jawabnya, tetep yang jadi pemenangnya adalah....saya hahahaha
Indahnya bermain dengan anak dengan mengikuti pola pikirnya yang masih sangat polos dan jernih.
Sepertinya baru itu yang bisa saya bagi disini, mungkin kalau ada teman-teman yang mau menambahkan dan berbagi pengalamannya mengasuh dan mendidik anak boleh banget loh, karena setiap anak pasti berbeda, setiap anak adalah istimewa.
Setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing, jika anak kita belum terlihat kelebihannya di bidang akademis, mungkin di keterampilan, jika belum mungkin di sosialnya. Semua pasti ada kelebihannya tinggal kita yang mau menerima dan mau melihatnya atau tidak.
Semua kembali pada kita orang tuanya, apakah melihat anak kita sebagai seseorang yang baik dan istimewa atau sebaliknya.
Pokoknya terima anak kita apa adanya dan jadilah kita pendamping yang bisa dipercaya.
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Jumat, 30 Oktober 2015
Rabu, 01 Mei 2013
Tips mengatasi agresifitas anak
Agresifitas anak...
Siapa yang gak pernah bermasalah dengan anak yang agresif coba? pasti kebanyakan sudah atau bahkan sekarang sedang bermasalah dengan keagresifan anak?
Agresif secara psikologi adalah cenderung (ingin) menyerang kepada sesuatu yang dipandang sebagai hal yang mengecewakan, menghalangi, atau menghambat.(KBBI, 1995)
Kalau diperhatikan, mana ada sih orang tua yang mau anaknya bertindak agresif? tapi, anak-anak meskipun tidak diajarkan pasti melakukan tindakan agresifitas seperti memukul, menjambak, menggigit, bahkan mengumpat. Padahal mainan sudah disortir, tontonan tv maupun dvd sudah disensor, tapi tetap saja tindakan agresifitas berjalan, bahkan mainan dari balok atau terompet bisa jadi pistol.
Pertanyaan selanjutnya adalah normal gak ya? atau gimana?
Ternyata, perilaku tersebut untuk anak-anak masih terbilang normal, tapi bukan berarti bisa didiamkan dan dibiarkan saja. Tentunya kita sebagai orang tua gak mau anak kita terus seperti itu bukan?
Berdasarkan sumber-sumber yang saya baca, cara mengatasi agresifitas anak adalah dengan:
Negosiasi yang saya lakukan adalah saya ajak bicara baik-baik ( meskipun kadang udah mau marah ) lalu menanyakan mengapa dia bertindak seperti itu? dan jawabannya....gak tau. Hal ini berarti satu poin penting lagi, anak-anak melakukan itu bukan karena mereka ingin begitu, mungkin untuk menguji kita orang tuanya apakah bisa di manipulasi dengan cara itu?
Lanjut ya, setelah dia bilang gak tau, baru saya masukkan poin penting... bahwa perilaku seperti itu tidak baik karena akan menyakiti orang lain, dan saya meminta dia untuk tidak megulangi lagi. Bereskah? belum ternyata, karena dia mengulangi lagi beberapa jam kemudian. Tarik nafas dulu saja, terus bikin muka serius deh, sambil bikin perjanjian lagi bahwa kalau diulangi lagi akan ada hukuman dan kalau tidak diulangi akan ada hadiah.
Cukup efektif loh, karena untuk beberapa hari agresifnya berkurang, hooraayy....
Catat : beberapa hari!!!
Jadi, berdasarkan pengalaman mungkin sikap agresif itu akan tetap ada, asal tepat pelampiasannya mudah2an tidak menjadi lebih parah di kemudian hari, jangan sampai deh....
Terus, selama kita memberitahukan tentang baik buruknya suatu perbuatan, dan konsekuensi dari perbuatan itu semoga pada saat besar dia dapat mengetahui apa yang harus dia lakukan dalam menghadapi masalah emosionalnya.
Saya hanya berbagi, semoga tulisan ini bisa menjadi masukan bagi kita semua. Saya juga masih belajar menghadapi tingkah laku anak dan pernak-perniknya yang setiap hari ada- ada saja.
Semangat dalam menjadi orang tua yang baik, tidak sempurna tapi bisa selalu menjadi contoh baik buat anak....
Mei, 2013
Siapa yang gak pernah bermasalah dengan anak yang agresif coba? pasti kebanyakan sudah atau bahkan sekarang sedang bermasalah dengan keagresifan anak?
Agresif secara psikologi adalah cenderung (ingin) menyerang kepada sesuatu yang dipandang sebagai hal yang mengecewakan, menghalangi, atau menghambat.(KBBI, 1995)
Kalau diperhatikan, mana ada sih orang tua yang mau anaknya bertindak agresif? tapi, anak-anak meskipun tidak diajarkan pasti melakukan tindakan agresifitas seperti memukul, menjambak, menggigit, bahkan mengumpat. Padahal mainan sudah disortir, tontonan tv maupun dvd sudah disensor, tapi tetap saja tindakan agresifitas berjalan, bahkan mainan dari balok atau terompet bisa jadi pistol.
Pertanyaan selanjutnya adalah normal gak ya? atau gimana?
Ternyata, perilaku tersebut untuk anak-anak masih terbilang normal, tapi bukan berarti bisa didiamkan dan dibiarkan saja. Tentunya kita sebagai orang tua gak mau anak kita terus seperti itu bukan?
Berdasarkan sumber-sumber yang saya baca, cara mengatasi agresifitas anak adalah dengan:
- Hindari visual mengenai agresifitas, seperti tayangan tv,dvd, games, atau bahkan sikap kita sendiri.
- Kalau sang anak mulai meniru "jagoannya" dalam memukul, menendang, pada saat itu bisa langsung kita beri arahan bahwa mengapa mereka memukul lawannya, bukankah lebih baik langsung memasukkan "penjahat" ke penjara sehingga kapok dan tidak mengulangi lagi.
- Dan, jangan pernah memberikan label anak nakal pada anak, sebab label ini akan membuat jarak anak dan orang tua semakin jauh. Jangan lupa juga ucapan orang tua adalah DO'A jadi lebih baik kita sebagai orang tua belajar berkata yang baik untuk anak. :)
- Bisa juga kita berikan reward/hadiah jika anak dalam beberapa hari tidak berlaku agresif
Negosiasi yang saya lakukan adalah saya ajak bicara baik-baik ( meskipun kadang udah mau marah ) lalu menanyakan mengapa dia bertindak seperti itu? dan jawabannya....gak tau. Hal ini berarti satu poin penting lagi, anak-anak melakukan itu bukan karena mereka ingin begitu, mungkin untuk menguji kita orang tuanya apakah bisa di manipulasi dengan cara itu?
Lanjut ya, setelah dia bilang gak tau, baru saya masukkan poin penting... bahwa perilaku seperti itu tidak baik karena akan menyakiti orang lain, dan saya meminta dia untuk tidak megulangi lagi. Bereskah? belum ternyata, karena dia mengulangi lagi beberapa jam kemudian. Tarik nafas dulu saja, terus bikin muka serius deh, sambil bikin perjanjian lagi bahwa kalau diulangi lagi akan ada hukuman dan kalau tidak diulangi akan ada hadiah.
Cukup efektif loh, karena untuk beberapa hari agresifnya berkurang, hooraayy....
Catat : beberapa hari!!!
Jadi, berdasarkan pengalaman mungkin sikap agresif itu akan tetap ada, asal tepat pelampiasannya mudah2an tidak menjadi lebih parah di kemudian hari, jangan sampai deh....
Terus, selama kita memberitahukan tentang baik buruknya suatu perbuatan, dan konsekuensi dari perbuatan itu semoga pada saat besar dia dapat mengetahui apa yang harus dia lakukan dalam menghadapi masalah emosionalnya.
Saya hanya berbagi, semoga tulisan ini bisa menjadi masukan bagi kita semua. Saya juga masih belajar menghadapi tingkah laku anak dan pernak-perniknya yang setiap hari ada- ada saja.
Semangat dalam menjadi orang tua yang baik, tidak sempurna tapi bisa selalu menjadi contoh baik buat anak....
Mei, 2013
Sabtu, 05 Januari 2013
Tips berbelanja online
Saya mau berbagi tentang belanja di dunia online yaa....
Berdasarkan pengalaman pribadi loh, jadi semua menurut pandangan saya.
Banyak banget memang produk-produk yang ditawarkan di dunia online, lucu-lucu,menarik gambarnya, dan harganya kadang-kadang lebih murah.
Kenapa kadang-kadang, memang iya, perasaan kita murah padahal setelah kita pikirkan lagi dan lihat produk yang hampir serupa dengan yg offline ternyata memang harga normalnya segitu.
Tapi, memang kalau ingin yang barangnya langsung sampai dirumah tanpa kita harus berangkat kemana-mana, belanja online memang tepat banget.
Hal yang harus diperhatikan saat melakukan belanja online adalah:
1. Kenali dulu toko online yang kita lihat, adakah alamatnya lengkap, no telepon, no kontak lain, e-mail. Sebenernya kita juga biasanya punya feeling apakah toko itu beneran atau gak, cuma seringnya kita gak mau dengerin kata hati sendiri sih.
2. Lihat dulu barang-barang yang dijualnya deh, apa mencurigakan atau tidak.
3. Jangan dilupakan untuk selalu men-cek ketentuan yang ada, biasanya sih selalu ada dan jangan pernah memberikan no PIN apapun.
4. Perhatikan apakah tercantum no telp tokonya, alamat lengkapnya, dan cutomer care yang selalu ada, bahkan akan lebih baik jika dia menawarkan bisa beli di toko langsung.
5. oh, iya satu lagi bagaimana cara meng-konfirmasi transfer dan pengiriman barang juga perlu diperhatikan. Apakah lewat sms atau lewat e-mail.
Selamat berbelanja on-line, pada akhirnya banyak penjual on-line yang memang jujur ini hanya mengingatkan saja supaya tidak terjerumus.
Berdasarkan pengalaman pribadi loh, jadi semua menurut pandangan saya.
Banyak banget memang produk-produk yang ditawarkan di dunia online, lucu-lucu,menarik gambarnya, dan harganya kadang-kadang lebih murah.
Kenapa kadang-kadang, memang iya, perasaan kita murah padahal setelah kita pikirkan lagi dan lihat produk yang hampir serupa dengan yg offline ternyata memang harga normalnya segitu.
Tapi, memang kalau ingin yang barangnya langsung sampai dirumah tanpa kita harus berangkat kemana-mana, belanja online memang tepat banget.
Hal yang harus diperhatikan saat melakukan belanja online adalah:
1. Kenali dulu toko online yang kita lihat, adakah alamatnya lengkap, no telepon, no kontak lain, e-mail. Sebenernya kita juga biasanya punya feeling apakah toko itu beneran atau gak, cuma seringnya kita gak mau dengerin kata hati sendiri sih.
2. Lihat dulu barang-barang yang dijualnya deh, apa mencurigakan atau tidak.
3. Jangan dilupakan untuk selalu men-cek ketentuan yang ada, biasanya sih selalu ada dan jangan pernah memberikan no PIN apapun.
4. Perhatikan apakah tercantum no telp tokonya, alamat lengkapnya, dan cutomer care yang selalu ada, bahkan akan lebih baik jika dia menawarkan bisa beli di toko langsung.
5. oh, iya satu lagi bagaimana cara meng-konfirmasi transfer dan pengiriman barang juga perlu diperhatikan. Apakah lewat sms atau lewat e-mail.
Selamat berbelanja on-line, pada akhirnya banyak penjual on-line yang memang jujur ini hanya mengingatkan saja supaya tidak terjerumus.
Langganan:
Postingan (Atom)